Wall Street Melompat Tajam, Gencatan Senjata AS-Iran Picu Gairah Investor

STOCKWATCH.ID (NEW YORK) – Bursa saham Amerika Serikat atau Wall Street ditutup melonjak tajam pada akhir perdagangan Rabu (08/04) waktu setempat atau Kamis (9/4/2026). Tiga indeks utama melesat setelah adanya kesepakatan gencatan senjata selama dua minggu antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Kesepakatan ini memberikan angin segar bagi sentimen investor global.

Mengutip Reuters, indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) di Bursa Efek New York melesat 1.326,33 poin atau 2,85% ke level 47.910,79. Indeks S&P 500 (SPX) juga terangkat 165,98 poin atau 2,51% dan berakhir di posisi 6.782,83. Sementara itu, indeks komposit Nasdaq (IXIC) menguat 617,15 poin atau 2,80% menjadi 22.635,00.

Reli kenaikan terjadi segera setelah bel pembukaan perdagangan dimulai. Pasar merespons positif kesepakatan yang ditengahi oleh Pakistan tersebut. Konflik ini sebelumnya telah mengganggu pasokan minyak global dan memicu kekhawatiran inflasi tinggi sejak akhir Februari lalu.

Sentimen positif juga datang dari Selat Hormuz. Seorang pejabat senior Iran menyebut jalur distribusi minyak utama dunia itu bisa dibuka kembali pada Kamis atau Jumat. Hal ini dilakukan menjelang pembicaraan damai untuk menyepakati kerangka kerja gencatan senjata.

Mike Dickson, Head of Portfolio Management di Horizon Investments, memberikan analisanya. Ia menilai pasar menyambut baik perkembangan politik tersebut.

“Ini adalah langkah yang diharapkan hari ini dan masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan, namun menurut saya pasar cukup lega,” ujar Dickson.

Dickson juga menyoroti risiko yang sebelumnya mengintai pelaku pasar. Menurutnya, pemulihan ini terjadi pada sektor-sektor yang sebelumnya paling menderita.

“Sisi lain dari koin ini bisa jadi jauh lebih buruk dan sejujurnya ada alasan bagus untuk berpikir hal itu mungkin saja terjadi. Jadi Anda melihat reli pemulihan ini di area pasar yang paling terpukul parah,” tambah Dickson.

Penguatan ini membawa S&P 500 berada di atas rata-rata pergerakan 200 hari untuk pertama kalinya sejak pertengahan Maret. Sementara itu, indeks Dow Jones mencatat persentase kenaikan harian terbesar sejak 9 April 2025.

Sektor industri memimpin penguatan dari 11 sektor utama di S&P 500. Sebaliknya, sektor energi menjadi satu-satunya yang melemah sebesar 3,7% akibat penurunan harga minyak mentah.

Ross Mayfield, Investment Strategy Analyst di Baird, memberikan pandangannya. Ia menyebut dampak konflik ini lebih terasa di luar wilayah AS.

“Sebagian besar negara lain lebih terpapar pada guncangan energi dan guncangan pangan dibandingkan AS,” kata Mayfield. “Jadi ini merupakan kelegaan jangka pendek yang jauh lebih besar bagi saham internasional.”

Saham-saham maskapai penerbangan dan perjalanan mengalami lonjakan cukup besar. Delta Air Lines naik 3,8%, sedangkan Southwest Airlines dan United Airlines masing-masing melesat 6,7% dan 7,9%. Operator kapal pesiar Carnival dan Norwegian Cruise Line juga menguat masing-masing 11,2% dan 7,6%.

Di sisi lain, risalah rapat Bank Sentral AS (The Fed) bulan Maret menunjukkan adanya peluang kenaikan suku bunga. Para pembuat kebijakan menaikkan prospek inflasi 2026 akibat guncangan harga minyak selama perang berlangsung.

Volume perdagangan di bursa AS mencapai 20,64 miliar saham. Angka ini lebih tinggi dibandingkan rata-rata harian 19,42 miliar saham dalam 20 sesi terakhir.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Wall Street Lanjutkan Reli, Indeks Dow Jones Berbalik Positif Sepanjang Tahun 2026

STOCKWATCH.ID (NEW YORK) – Bursa saham Amerika Serikat (AS)...

Gencatan Senjata AS-Iran Terancam, Bursa Saham Eropa Berakhir di Zona Merah

STOCKWATCH.ID (LONDON) – Bursa saham Eropa ditutup melemah pada...

Gencatan Senjata AS-Iran Terancam Retak, Bursa Saham Asia Mayoritas Memerah

STOCKWATCH.ID (TOKYO) – Bursa saham di kawasan Asia-Pasifik mayoritas...

Populer 7 Hari

Berita Terbaru