Selasa, Januari 20, 2026
30 C
Jakarta

Wall Street Menguat Tajam Usai Iran Tahan Diri, Dow Meroket 350 Poin!

STOCKWATCH.ID (NEWYORK) – Wall Street menguat tajam pada penutupan perdagangan hari Senin (23/6/2025) atau Selasa (23/6/2025) WIB). Kabar bahwa Iran merespons serangan AS dengan cara yang lebih terkendali membuat investor merasa lega.

Mengutip CNBC International, indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) di Bursa Efek New York) naik 374,96 poin atau 0,89% menjadi 42.581,78. Indeks S&P 500 (SPX) 500 j melesat 57,33 poin atau 0,96% mencapai 6.025,17. Sementara itu, indeks komposit Nasdaq (IXIC) yang didominasi saham teknologi, menguat 183,57 poin atau  0,94% ke posisi 19.630,98.

Kenaikan ini terjadi di tengah kekhawatiran konflik Iran-AS yang sempat memanas akhir pekan lalu. Namun, respons Iran yang tidak terlalu agresif memberikan sentimen positif bagi pelaku pasar.

Militer Iran mengklaim telah menyerang pangkalan militer AS di Qatar sebagai balasan atas serangan udara Amerika ke fasilitas nuklir Iran di Fordo, Isfahan, dan Natanz. Namun serangan itu berhasil dicegat oleh Qatar dan tidak menimbulkan korban.

Reaksi pasar langsung terasa. Harga minyak anjlok lebih dari 7% karena pelaku pasar menilai suplai minyak global tidak akan terganggu secara signifikan.

Harga minyak mentah West Texas Intermediate turun tajam dan ditutup di US$68,51 per barel. Padahal sebelumnya sempat menyentuh level tertinggi sejak Januari di atas US$78 per barel.

Komentar dari Presiden AS, Donald Trump, juga ikut menekan harga minyak. Melalui unggahan di Truth Social, Trump menulis bahwa semua pihak sebaiknya menjaga harga minyak tetap rendah. Jika tidak, menurutnya, hal itu akan “menguntungkan musuh”.

“Pasar hanya peduli pada guncangan suplai minyak. Jadi selama itu tidak terjadi, pasar akan terus naik tajam,” kata Jamie Cox, Managing Director di Harris Financial Group.

Menurut Cox, terlepas dari apakah Presiden terlalu membesar-besarkan dampak serangan tersebut atau tidak, program nuklir Iran telah mundur beberapa dekade.

Meski begitu, risiko tetap ada. Iran masih bisa saja menargetkan pangkalan AS lainnya atau menutup Selat Hormuz, jalur penting perdagangan minyak dunia.

Dalam wawancara dengan Fox News pada hari Minggu, Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, meminta pemerintah China untuk mencegah Iran menutup jalur tersebut. China diketahui sebagai pelanggan minyak terbesar Iran.

“Meski Iran sempat menggoda untuk menutup Selat Hormuz, investor tidak terlalu panik terhadap potensi krisis minyak. Pandangan ini masih masuk akal,” tulis Adam Crisafulli dari Vital Knowledge dalam catatannya.

Menurutnya, meskipun risiko geopolitik meningkat di Timur Tengah, kondisi seperti kemampuan militer Iran yang sudah melemah, minimnya dukungan dari sekutu, dan suplai minyak global yang cukup, membuat dampaknya masih bisa dikendalikan.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Ambisi Trump Beli Greenland Bikin Bursa Eropa Kebakaran, Saham Mewah dan Otomotif Rontok

STOCKWATCH.ID (LONDON) – Bursa saham Eropa kompak memerah pada...

Bursa Asia Melemah, Investor Waspadai Isu Trump dan Data China

STOCKWATCH.ID (TOKYO) – Mayoritas bursa saham di kawasan Asia-Pasifik...

Trump Ancam Tarif 25% ke Eropa, Bursa Saham Dunia Siap-Siap Terguncang

STOCKWATCH.ID (LONDON) – Pasar saham global bersiap menghadapi guncangan...

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Populer 7 Hari

Berita Terbaru