Wall Street Mixed Usai Powell Bahas Inflasi dan Trump Bicara Iran

STOCKWATCH.ID (NEW YORK) – Bursa saham Amerika Serikat atau Wall Street ditutup bervariasi pada akhir perdagangan Senin sore (30/3/2026) waktu setempat atau Selasa pagi (31/3/2026) WIB. Indeks S&P 500 dan Nasdaq tertekan kenaikan harga minyak yang berkelanjutan. Investor juga mengamati komentar Ketua Federal Reserve Jerome Powell mengenai inflasi.

Mengutip CNBC International, indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) di Bursa Efek New York menguat tipis 49,50 poin atau 0,11% ke level 45.216,14. Indeks S&P 500 (SPX) justru turun 0,39% dan berakhir di posisi 6.343,72. Sementara itu, indeks komposit Nasdaq (IXIC) merosot 0,73% menjadi 20.794,64.

Penurunan S&P 500 dipicu sektor teknologi yang anjlok lebih dari 1%. Indeks ini kini berada 9% di bawah rekor penutupan tertingginya. Indeks Volatilitas CBOE atau pengukur ketakutan Wall Street sempat melampaui level 30 selama sesi berlangsung.

Harga minyak Amerika Serikat melonjak mengawali pekan ini. Minyak West Texas Intermediate (WTI) menetap di level USD 102,88 per barel atau naik 3,25%. Harga minyak Brent juga merayap naik 0,19% ke posisi USD 112,78 per barel.

Ketua Fed Jerome Powell menyebut ekspektasi inflasi tetap terjaga di atas jangka pendek. Hal ini ia sampaikan meskipun harga energi terus meroket. Imbal hasil obligasi Treasury 10-tahun tergelincir ke level 4,35% merespons pernyataan tersebut.

Sentimen pasar turut dipengaruhi pernyataan Presiden Donald Trump melalui akun Truth Social miliknya. Trump memberikan harapan berakhirnya perang melawan Iran. Ia menyebut Amerika Serikat sedang dalam diskusi serius dengan rezim baru yang lebih masuk akal.

Namun, Trump memberikan peringatan keras jika kesepakatan damai tidak segera tercapai. Ia mengancam akan menghancurkan seluruh pembangkit listrik dan sumur minyak Iran. Langkah ini akan diambil jika Selat Hormuz tidak segera dibuka kembali.

David Wagner, Head of Equities Aptus Capital Advisors, memberikan pandangannya. Ia menyoroti pola perilaku investor dalam beberapa bulan terakhir. “Investor baru saja terbiasa dengan anomali baru ini di mana pasar cenderung berkinerja buruk pada hari Kamis [dan] Jumat, serta cenderung berkinerja baik pada hari Senin [dan] Selasa,” ujar Wagner dalam wawancara dengan CNBC.

Wagner mencatat imbal hasil kumulatif pasar antara Kamis dan Jumat tertinggal sekitar 7% dibanding periode Senin hingga Rabu. Fenomena ini sebagian besar terjadi sejak pecahnya perang pada 28 Februari lalu.

“Ini seperti bersiap untuk berita buruk … menjelang akhir pekan untuk melindungi diri mereka sendiri, jadi mereka melakukan pengambilan risiko, dan kemudian di awal minggu, mereka cenderung masuk kembali. Tampaknya sebagian dari pengambilan risiko yang dilepaskan tersebut terjadi sedikit lebih cepat daripada yang terjadi selama beberapa minggu terakhir,” tambah Wagner.

Wall Street baru saja melewati pekan yang sulit dengan penurunan mingguan kelima berturut-turut. Pasar akan ditutup pada hari Jumat mendatang untuk memperingati hari Jumat Agung. Meski demikian, laporan pekerjaan bulan Maret tetap akan dirilis pada pagi harinya.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Bursa Eropa Parkir di Zona Hijau di Tengah Eskalasi Perang Iran

STOCKWATCH.ID (LONDON) – Bursa saham Eropa ditutup menguat pada...

Bursa Saham Asia Merosot Tajam, Indeks Kospi Terjun Bebas

STOCKWATCH.ID (TOKYO) – Bursa saham di kawasan Asia-Pasifik jatuh...

Wall Street Tumbang, Indeks Dow Jones Terperosok Hampir 800 Poin

STOCKWATCH.ID (NEW YORK) – Bursa saham Amerika Serikat atau...

Populer 7 Hari

Berita Terbaru