back to top

Wall Street Naik Tipis, Saham Bank Bersinar Saat Sektor Software Tertekan AI

STOCKWATCH.ID (NEW YORK) – Bursa saham Amerika Serikat atau Wall Street ditutup menguat tipis pada akhir perdagangan Selasa sore (17/2/2026) waktu setempat atau Rabu pagi (18/2/2026) WIB. Kenaikan indeks tertahan oleh merosotnya saham-saham di sektor perangkat lunak (software).

Mengutip CNBC International, indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) di Bursa Efek New York naik 32,26 poin atau 0,07% ke level 49.533,19. Indeks S&P 500 (SPX) juga terangkat 0,1% dan berakhir di posisi 6.843,22. Sementara itu, indeks komposit Nasdaq (IXIC) yang didominasi saham teknologi, menguat 0,14% menjadi 22.578,38.

Investor terlihat melakukan rotasi modal. Mereka keluar dari saham-saham software yang terus tertekan sepanjang tahun ini. Para pemodal kemudian beralih ke saham sektor keuangan seperti Citigroup dan JPMorgan.

Saham Citigroup melonjak 2,6% pada penutupan perdagangan. Saham JPMorgan juga ikut terkerek naik lebih dari 1%. Pergerakan ini berbanding terbalik dengan kinerja saham teknologi.

Sektor software dihantam kekhawatiran terkait alat kecerdasan buatan (AI). Teknologi AI diprediksi bisa menggantikan penyedia perangkat lunak khusus industri. Kondisi ini menekan performa emiten besar di sektor tersebut.

Saham ServiceNow merosot lebih dari 1%. Total penurunannya sepanjang 2026 mencapai sekitar 31%. Autodesk dan Palo Alto Networks juga turun lebih dari 2%.

Penurunan lebih dalam dialami Salesforce dan Oracle. Masing-masing terkoreksi hampir 3% dan 4%. Dana kelolaan iShares Expanded Tech-Software Sector ETF (IGV) bahkan terseret turun lebih dari 2%.

Leah Bennett, Chief Investment Strategist Concurrent Investment Advisors, memberikan pandangannya. Ia menyoroti pentingnya melihat kinerja fundamental perusahaan.

“Kami hanya butuh waktu untuk melihat seperti apa pendapatan dari beberapa perusahaan ini nantinya,” ujar Bennett dalam wawancara dengan CNBC. “Saya rasa perusahaan yang tidak mampu bersaing dan tidak benar-benar memiliki benteng perlindungan di sekitar bisnis mereka, akan terlihat mengalami penurunan.”

Bennett menambahkan gangguan teknologi ini akan membantu pasar memilah pemenang di masa depan. Di sisi lain, isu disrupsi AI ini telah memicu tekanan jual pada S&P 500 selama dua minggu berturut-turut.

Scott Chronert, Citi U.S. Equity Strategist, menjelaskan fenomena pergeseran fokus investor. Valuasi perusahaan kini sedang diuji oleh inovasi teknologi.

“Inovasi AI dan gangguannya mempertanyakan valuasi terminal di berbagai sudut pasar. Hal ini mendorong investor untuk fokus pada risiko spesifik, daripada perubahan eksposur yang lebih luas,” tutur Chronert.

Menurut Chronert, narasi pasar saat ini terputus dari tren fundamental jangka menengah yang baik. Perusahaan kini memikul beban untuk meyakinkan pasar tentang ketahanan bisnis mereka dalam jangka panjang.

Pelaku pasar kini menunggu data inflasi terbaru. Laporan indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) dijadwalkan rilis pada Jumat mendatang. Sebelumnya, investor akan memantau risalah rapat Federal Reserve pada hari Rabu.

Bursa Efek New York sendiri baru kembali beroperasi hari ini. Sebelumnya, pasar tutup pada hari Senin untuk memperingati Hari Presiden.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Wall Street Menguat, Saham Teknologi Raksasa jadi Penopang Utama

STOCKWATCH.ID (NEW YORK) – Bursa saham Amerika Serikat atau...

Bayer Anjlok 7% Usai Usul Damai Kasus Roundup, Bursa Saham Eropa Tetap Melaju Hijau

STOCKWATCH.ID (LONDON) – Bursa saham Eropa ditutup menguat pada...

Bursa Saham Asia Menguat, Nikkei Akhiri Tren Turun Tiga Hari

STOCKWATCH.ID (TOKYO) – Bursa saham di kawasan Asia-Pasifik bergerak...

Populer 7 Hari

Berita Terbaru