STOCKWATCH.ID (NEW YORK) – Bursa saham Amerika Serikat atau Wall Street ditutup melemah pada Kamis (26/3/2026) waktu setempat atau Jumat Pagi (27/3/2026) WIB. Tekanan datang dari lonjakan harga minyak dan meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Mengutip CNBC International, indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) di Bursa Efek New York turun 469,38 poin atau 1,01% ke level 45.960,11. Indeks S&P 500 (SPX) melemah 1,74% ke posisi 6.477,16. Sementara indeks Nasdaq (IXIC) yang didominasi saham teknologi, anjlok 2,38% menjadi 21.408,08.
Penurunan tajam Nasdaq membuat indeks ini masuk ke area koreksi. Posisi ini tercatat turun lebih dari 10% dari level tertingginya.
Pelemahan Wall Street terjadi seiring kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun dan 2 tahun. Kondisi ini menekan minat investor pada aset berisiko.
Lonjakan harga minyak menjadi salah satu pemicu utama tekanan di pasar saham. Harga minyak Brent naik 5,66% menjadi USD108,01 per barel. Sementara minyak West Texas Intermediate (WTI) menguat 4,61% ke level USD94,48 per barel.
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menilai kenaikan harga minyak tidak akan berlangsung lama. “Semuanya akan turun kembali ke level semula dan mungkin lebih rendah,” ujar Trump.
Ia juga menyoroti perkembangan negosiasi dengan Iran. Melalui Truth Social, Trump meminta Iran segera bersikap serius dalam pembicaraan damai.
Di sisi lain, negara-negara Teluk mengeluarkan pernyataan bersama terkait serangan terhadap infrastruktur energi mereka. Serangan tersebut dikaitkan dengan Iran dan dilakukan dari wilayah Irak.
“Meskipun kami menghargai hubungan persaudaraan kami dengan Republik Irak, kami menyerukan kepada pemerintah Irak untuk mengambil langkah-langkah yang diperlukan guna segera menghentikan serangan,” tulis pernyataan tersebut.
Pelaku pasar tetap menunjukkan sikap optimistis di tengah ketidakpastian. Portfolio Manager Argent Capital Management, Jed Ellerbroek, melihat investor masih percaya pasar dapat pulih.
“Ini adalah pasar yang berpuas diri, investor pada dasarnya optimistis dan bersedia menerima kabar buruk,” kata Ellerbroek.
Sementara itu, Head of U.S. Policy and Politics Wolfe Research, Tobin Marcus, menilai pesan Iran belum sepenuhnya jelas. Ia melihat pasar mulai membaca adanya perbedaan antara sikap publik dan posisi sebenarnya.
“Pesan publik negatif Iran mungkin merupakan tabir asap untuk sikap pribadi yang lebih akomodatif,” tulis Marcus.
Meski tertekan, indeks Dow Jones masih berada di jalur kenaikan mingguan. Investor kini menunggu perkembangan negosiasi dalam lima hari ke depan sesuai tenggat yang disampaikan Trump.
