STOCKWATCH.ID (NEW YORK) – Bursa saham Amerika Serikat atau Wall Street ditutup melemah pada akhir perdagangan Selasa sore (3/3/2026) waktu setempat atau Rabu pagi (4/3/2026) WIB. Sesi perdagangan kembali berjalan liar. Investor merespons kepanikan akibat memanasnya konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.
Mengutip CNBC International, indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) di Bursa Efek New York merosot 403,51 poin atau 0,83%. Indeks S&P 500 (SPX) juga turun 64,99 poin atau 0,94% dan ditutup di posisi 6.816,63. Sementara itu, indeks komposit Nasdaq (IXIC) yang didominasi saham teknologi, berakhir di level 22.516,691. Indeks ini turun 232,167 poin atau minus 1,02%.
Pada titik terendahnya hari ini, kejatuhan bursa jauh lebih parah. Indeks Dow Jones sempat anjlok lebih dari 1.200 poin atau sekitar 2,6%. S&P 500 sempat terperosok 2,5%. Nasdaq juga sempat terpuruk hingga 2,7%.
Kekhawatiran pasar sedikit tertahan setelah Presiden AS Donald Trump memberikan komentarnya. Ia berjanji Angkatan Laut AS siap mengawal kapal tanker melewati Selat Hormuz jika memang diperlukan.
“Apa pun yang terjadi, Amerika Serikat akan memastikan ALIRAN BEBAS ENERGI ke DUNIA,” tulis Trump dalam unggahannya di Truth Social.
“KEKUATAN EKONOMI dan MILITER Amerika Serikat adalah yang TERBESAR DI BUMI — Akan ada lebih banyak tindakan ke depannya,” tambahnya.
Harga minyak patokan global, Brent, ditutup naik 2%. Kenaikan ini jauh mereda dari posisi puncaknya hari ini. Minyak mentah WTI juga naik 2%. Sebelumnya, kedua patokan harga minyak ini sempat terbang lebih dari 9%. Kenaikan tersebut menyusul lonjakan 6% pada sesi Senin.
Lonjakan awal harga energi sempat mengerek imbal hasil (yield) obligasi AS (Treasury). Investor cemas inflasi akan kembali meledak. Padahal, pelaku pasar sedang sangat menanti pemangkasan suku bunga Federal Reserve untuk memacu ekonomi. Namun, imbal hasil akhirnya ikut menyusut mengekor harga minyak.
Kecemasan perang makin memburuk. Komandan Garda Revolusi Iran menyatakan Selat Hormuz telah ditutup. Selat ini merupakan jalur transit minyak mentah paling vital di dunia. Iran mengancam akan membakar kapal-kapal yang nekat mencoba melintas rute tersebut. Peringatan Trump soal potensi konflik lebih dari empat minggu ikut memperparah kepanikan pasar.
Jeffrey O’Connor, Kepala Struktur Pasar Saham AS di Liquidnet, memberikan analisisnya kepada CNBC. Ia menilai harga minyak tinggi bisa terus bertahan. Investor harus siap menghadapi inflasi, imbal hasil, dan ekspektasi pemangkasan suku bunga ke depannya.
“Saya yakin kemungkinan misi yang lebih berkepanjangan dapat membebani pasar selama beberapa minggu ke depan,” ujar O’Connor.
“Secara historis, pasar AS mampu mengabaikan guncangan geopolitik seperti ini, namun masalahnya, Selat Hormuz ditutup,” lanjutnya.
Sekitar 20% konsumsi minyak dunia mengalir melalui selat tersebut. Penutupan jalur ini “tidak dapat diabaikan,” tegas O’Connor.
Hampir seluruh sektor pada S&P 500 berada di zona merah. Hanya sektor keuangan yang tidak ikut mencatat kerugian. Sektor material dan industri menderita kerugian terbesar. Investor takut kenaikan harga minyak dan biaya pinjaman akan melukai ekonomi AS.
Saham-saham teknologi raksasa seperti Nvidia ikut tumbang. Saham cip memori AS juga tertekan. Penurunan ini sejalan dengan melemahnya saham cip memori di Korea Selatan pada hari yang sama.
Saham Blackstone ikut amblas 2%. Laporan Financial Times mengungkap dana kredit swasta perusahaan tersebut menderita arus keluar bersih sebesar USD 1,7 miliar pada kuartal pertama.
Hampir tidak ada tempat aman bagi investor untuk bersembunyi hari ini. Harga emas turun tajam setelah sempat naik pada hari Senin. Indeks Volatilitas CBOE, pengukur rasa takut di Wall Street, melompat ke level tertingginya sejak November.
