STOCKWATCH.ID (NEW YORK) – Bursa saham Amerika Serikat atau Wall Street ditutup melemah tajam pada akhir perdagangan Jumat (27/3/2026) waktu setempat atau Sabtu (28/3/2026) WIB. Tekanan pasar meningkat akibat ketegangan di Selat Hormuz dan lonjakan harga minyak dunia.
Mengutip CNBC International, indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) anjlok 793,47 poin atau turun 1,73% ke level 45.166,64. Penurunan ini membawa Dow Jones masuk ke zona koreksi.
Indeks S&P 500 (SPX) juga melemah 1,67% ke posisi 6.368,85. Level ini menjadi yang terendah dalam tujuh bulan terakhir. Sementara itu, indeks Nasdaq Composite (IXIC) jatuh lebih dalam 2,15% ke level 20.948,36.
Tekanan pasar terjadi sepanjang pekan. S&P 500 tercatat turun 2,1% dalam sepekan terakhir. Nasdaq melemah 3,2%. Sementara Dow Jones terkoreksi 0,9%.
Sentimen negatif dipicu meningkatnya risiko geopolitik di Selat Hormuz. Jalur ini menjadi salah satu titik krusial distribusi energi global.
Harga minyak mentah melonjak tajam. Minyak Brent naik 4,22% ke level USD112,57 per barel. Sementara minyak West Texas Intermediate (WTI) menguat 5,46% menjadi USD99,64 per barel. Keduanya menjadi level penutupan tertinggi sejak Juli 2022.
Situasi memanas setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, memperpanjang tenggat waktu serangan terhadap infrastruktur energi Iran hingga 6 April 2026. Keputusan ini diambil setelah adanya permintaan dari pemerintah Iran.
Namun, ketidakpastian tetap tinggi. Pemerintah Iran dikabarkan menolak membuka jalur negosiasi dengan Amerika Serikat. Di sisi lain, Pentagon mempertimbangkan pengiriman tambahan 10.000 tentara ke kawasan Timur Tengah.
Ketegangan semakin meningkat setelah Garda Revolusi Iran menyatakan penutupan Selat Hormuz. Iran juga memperingatkan akan merespons setiap aktivitas di jalur tersebut.
Dampaknya mulai terasa pada aktivitas pelayaran. Dua kapal asal China dilaporkan tidak dapat melintas. Sementara kapal kargo berbendera Thailand mengalami insiden di perairan tersebut.
Founder dan CEO Infrastructure Capital Advisors, Jay Hatfield, menilai pasar membutuhkan kepastian nyata terkait konflik ini.
“Investor berada pada titik ingin melihat penyelesaian konflik benar-benar membuahkan hasil, bukan sekadar kemungkinan,” ujar Hatfield.
Ia menambahkan, penutupan Selat Hormuz berisiko memperburuk pasar energi global. “Semakin lama Selat tersebut ditutup, pasar minyak akan menjadi semakin buruk,” kata Hatfield.
Secara bulanan, ketiga indeks utama Wall Street telah turun lebih dari 7%. Pelemahan terjadi sejak meningkatnya konflik setelah serangan terhadap infrastruktur energi Iran pada 28 Februari 2026.
Pelaku pasar kini menunggu langkah konkret dari pihak terkait untuk meredakan ketegangan dan memulihkan stabilitas pasar global.
