STOCKWATCH.ID (TOKYO) – Bursa saham Asia berakhir melemah pada penutupan perdagangan hari Selasa sore (12/11/2024) waktu setempat. Ketidakpastian global membuat investor memilih bermain aman. Padahal, bursa Amerika Serikat (AS) tengah mengalami reli pasca pemilu.
Mengutip CNBC International, indeks Hang Seng di Hong Kong menjadi yang paling terpukul. Indeks ini turun tajam hingga 2,84%, mengakhiri sesi di level 19.846,88. Di Tiongkok, indeks CSI 300 juga tertekan, melemah 1,1% ke posisi 4.085,74.
Pasar Korea Selatan juga terimbas sentimen negatif. Indeks Kospi melemah 1,94% ke 2.482,57, sementara Kosdaq merosot lebih dalam hingga 2,51% ke 710,52.
Di Australia, meskipun pelemahan tidak setajam Hong Kong dan Korea, indeks S&P/ASX 200 tetap melemah 0,13% ke 8.255,6. Sementara di Jepang, Nikkei 225 terkoreksi 0,4% ke 39.376,09, dan Topix hampir tidak bergerak di 2.741,52.
Kehati-hatian investor terlihat dari penurunan indeks utama Asia. Pasar saham Asia masih ragu mengikuti optimisme di Wall Street. Investor Asia tampaknya masih berhati-hati.
Beberapa data ekonomi dari negara Asia juga turut memengaruhi sentimen. Di Australia, survei dari National Australia Bank menunjukkan kondisi bisnis yang stagnan. Di Indonesia, penjualan ritel pada September tercatat tidak tumbuh.
Selain itu, pelaku pasar menantikan data inflasi dari India yang akan dirilis hari ini. Laporan pasar minyak bulanan dari OPEC yang dijadwalkan keluar hari ini juga dinantikan untuk melihat dampaknya terhadap harga energi global.
Sementara itu, di luar pasar saham, Bitcoin mencatat lonjakan besar. Aset kripto ini menembus level US$87.000, didorong optimisme pelonggaran regulasi di sektor kripto. Saham-saham terkait seperti Coinbase dan Mara Holdings masing-masing naik 20% dan 30%.
