spot_img

Bursa Asia Berakhir Variatif, Saham Pertahanan Hanwha Aerospace Meroket 11%

STOCKWATCH.ID (TOKYO) – Bursa saham di kawasan Asia-Pasifik bergerak variatif pada penutupan perdagangan hari Jumat (9/1/2026) waktu setempat. Sektor pertahanan mencatatkan kenaikan signifikan di tengah perhatian investor terhadap ketegangan geopolitik global.

Mengutip CNBC International, para pelaku pasar terus memantau dampak operasi Amerika Serikat (AS) yang menangkap Presiden Venezuela Nicolás Maduro. Selain itu, dorongan Presiden Donald Trump untuk mengambil alih Greenland turut memengaruhi sentimen pasar.

Saham Hanwha Aerospace asal Korea Selatan melonjak lebih dari 11%. Poongsan naik di atas 6%, sementara Korea Aerospace menguat 4,9%. Di Jepang, saham Kawasaki Heavy Industries naik 3,17% dan IHI bertambah 3,32%.

Indeks Nikkei 225 Jepang melesat 1,61% ke posisi 51.939,89. Indeks Topix juga menguat 0,85% menjadi 3.514,11. Kenaikan ini didorong lonjakan saham Fast Retailing sebesar 7%.

Pengelola gerai Uniqlo tersebut melaporkan laba operasional kuartalan melonjak sekitar sepertiga. Perusahaan pun menaikkan proyeksi laba setahun penuh.

Pihak perusahaan menyebutkan penjualan global yang kuat membantu menutupi dampak tarif AS. Manajemen menambahkan, perusahaan “tetap berada dalam jalur untuk pertumbuhan laba tahun kelima berturut-turut, didukung oleh penjualan yang lebih kuat di China dan ekspansi cepat di Amerika Utara serta Eropa.”

Di China, indeks CSI 300 naik tipis 0,45% ke level 4.758,92. Data Biro Statistik Nasional menunjukkan harga konsumen (inflasi) Desember naik 0,8% secara tahunan. Angka ini sesuai dengan perkiraan para ekonom.

Sementara itu, indeks Hang Seng Hong Kong menguat 0,32%. Indeks Shanghai Composite juga berakhir di zona hijau dengan kenaikan 0,92% ke posisi 4.120,42.

Bursa Korea Selatan turut menghijau. Indeks Kospi naik 0,75% ke level 4.586,32 dan indeks Kosdaq menguat 0,41% ke posisi 947,92.

Hasil berbeda terlihat di Australia. Indeks S&P/ASX 200 turun tipis 0,03% ke level 8.717,8. Saham raksasa tambang Rio Tinto merosot lebih dari 6%.

Tekanan pada Rio Tinto muncul setelah adanya pengumuman pembicaraan awal untuk mengakuisisi Glencore. Jika merger ini berhasil, akan tercipta raksasa pertambangan baru dengan nilai mencapai hampir 207 miliar USD.

Kini investor sedang menanti rilis laporan pekerjaan Desember di AS. Pasar juga menunggu keputusan Mahkamah Agung AS terkait legalitas tarif yang diusulkan Presiden Donald Trump. Putusan tersebut diperkirakan berdampak besar pada kebijakan perdagangan dan situasi fiskal negara.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Gebrakan Elon Musk di Bursa: SpaceX Patok Harga IPO USD 135, Jatah Ritel Tembus 30%

STOCKWATCH.ID (HAWTHORNE) – SpaceX milik Elon Musk menetapkan harga...

Serangan Udara AS ke Iran Tekan Futures Wall Street, Saham Teknologi Mulai Koreksi

STOCKWATCH.ID (NEW YORK) – Kontrak berjangka (futures) bursa saham...

Saham Chip Loyo Lagi, Indeks Nasdaq dan S&P 500 Kompak Tergelincir

STOCKWATCH.ID (NEW YORK) – Bursa saham Amerika Serikat atau Wall...
spot_img

Populer 7 Hari

Berita Terbaru