STOCKWATCH.ID (CHICAGO) – Harga emas dunia turun tipis pada akhir perdagangan Kamis (4/9/2025) waktu setempat atau Jumat pagi (5/9/2025) WIB. Padahal sehari sebelumnya harga logam mulia ini melesat hingga mencetak rekor. Pelemahan ini dipicu aksi ambil untung pelaku pasar menjelang rilis data tenaga kerja Amerika Serikat (AS) yang dinilai akan menjadi sinyal baru arah kebijakan Federal Reserve.
Mengutip CNBC International, harga emas spot tercatat turun 0,3% ke posisi US$3.547,68 per troy ounce. Sehari sebelumnya, emas sempat menyentuh level tertinggi sepanjang sejarah di US$3.578,50 per troy ounce.
Kenaikan tajam pada Rabu ditopang pelemahan pasar tenaga kerja AS. Kondisi ini memperkuat ekspektasi pemangkasan suku bunga oleh The Fed, ditambah ketidakpastian global yang mendorong minat pada aset aman.
Data terbaru menunjukkan jumlah warga AS yang mengajukan klaim pengangguran mingguan naik lebih tinggi dari perkiraan. Situasi ini menambah tekanan pada prospek ekonomi Negeri Paman Sam.
“Dengan ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed yang sudah banyak diperhitungkan pasar, laporan ketenagakerjaan bulanan besok menjadi fokus utama. Perubahan dalam data itu akan langsung berdampak pada dolar dan, pada gilirannya, emas,” ujar David Meger, Direktur Perdagangan Logam di High Ridge Futures.
Beberapa pejabat The Fed yang berbicara pada Rabu juga menegaskan kondisi pasar tenaga kerja masih menjadi alasan kuat untuk melanjutkan rencana pemangkasan suku bunga.
Mengacu pada CME Group’s FedWatch Tool, pasar kini memperkirakan peluang 98% terjadinya pemangkasan suku bunga sebesar 25 basis poin bulan ini.
Emas sebagai aset tanpa imbal hasil biasanya diuntungkan ketika suku bunga rendah dan ketidakpastian global meningkat.
Dalam riset terbarunya, Standard Chartered menilai harga emas masih punya peluang menanjak lebih tinggi. Bank ini menyebut permintaan aset aman tetap solid di tengah ketidakpastian soal tarif dan kekhawatiran atas independensi The Fed.
Situasi politik AS juga ikut memanas setelah Presiden Donald Trump mencoba memberhentikan Gubernur The Fed, Lisa Cook. Langkah kontroversial itu memicu tantangan hukum serius dan menimbulkan keraguan baru soal independensi bank sentral AS.
Sementara itu, dari Eropa, Gubernur Bank Sentral Polandia, Adam Glapinski, menyatakan akan mengusulkan peningkatan porsi emas dalam cadangan devisa negaranya dari 20% menjadi 30%.
