Minggu, Januari 11, 2026
25.1 C
Jakarta

IHSG Meroket 22,13%, OJK Targetkan Penguatan Perlindungan Investor di 2026

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – Pasar Modal Indonesia menutup tahun 2025 dengan kinerja sangat solid. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) nangkring di level 8.646,94 poin. Angka ini menunjukkan penguatan sebesar 22,13% secara year to date (ytd).

Ketua Dewan Komisioner OJK Mahendra Siregar menyampaikan data tersebut secara langsung. Ia berbicara pada Pembukaan Perdagangan Perdana Bursa Efek Indonesia Tahun 2026. Acara berlangsung di Gedung Bursa Efek Indonesia, Jumat (2/1/2026).

Kinerja positif ini sejalan dengan momentum pemulihan ekonomi nasional. IHSG bahkan mencatatkan beberapa kali rekor tertinggi atau all time high sepanjang 2025. Kepercayaan investor asing juga terlihat kembali pulih.

Investor non-residen mencatatkan net buy sebesar Rp36,23 triliun pada Semester II-2025. Kondisi ini berbalik setelah sempat mengalami net sell pada awal tahun. Fenomena ini mencerminkan pulihnya kepercayaan terhadap prospek ekonomi dan korporasi nasional.

Aktivitas penghimpunan dana menunjukkan angka fantastis. Tercatat ada 215 Penawaran Umum dengan total nilai mencapai Rp275 triliun. Jumlah tersebut mencakup 18 emiten baru dengan nilai IPO sebesar Rp14,41 triliun.

Rerata nilai transaksi harian ikut melonjak tajam. Angkanya mencapai Rp18,1 triliun dari sebelumnya sebesar Rp12,9 triliun pada 2024. Pertumbuhan ini didorong oleh jumlah investor yang menembus 20,2 juta Single Investor Identification (SID).

Jumlah investor tersebut meningkat sebesar 36% secara ytd. Pasar saham saat ini didominasi oleh investor berusia di bawah 40 tahun. Porsi transaksi investor ritel juga meningkat dari 38% menjadi 50% di tahun 2025.

OJK tetap memberikan catatan evaluasi untuk masa depan. Kinerja indeks LQ45 tercatat tumbuh sebesar 2,41%. Kontribusi pasar saham terhadap PDB Indonesia mencapai angka 72%.

Angka kontribusi PDB tersebut masih berada di bawah negara tetangga. India mencatatkan 140%, Thailand 101%, dan Malaysia sebesar 97%. Situasi ini menunjukkan masih terdapat ruang penguatan bagi pasar modal dalam negeri.

Peningkatan porsi investor ritel memicu perhatian khusus dari otoritas. Mahendra Siregar menilai kondisi ini menuntut pengawasan lebih ketat. Perlindungan terhadap masyarakat dari praktik manipulasi menjadi prioritas.

Mahendra Siregar memberikan penekanan khusus mengenai kondisi transaksi saat ini. “Porsi transaksi investor ritel yang meningkat dari 38 persen di akhir 2024 menjadi 50 persen di 2025, mempertegas urgensi penguatan perlindungan investor dari praktik transaksi tidak wajar dan manipulasi pasar,” ujarnya.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Investor Telkom (TLKM) Melejit di Akhir 2025, Danantara Genggam Kendali 52,09%

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM)...

Komposisi Pemegang Saham BRMS Akhir 2025: Investor Sugiman Halim Genggam 7,45%

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS)...

Ekspansi Rumah Tapak, Pengendali Diamond Citra (DADA) Akuisisi PKSI Rp174,8 Miliar

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – PT Karya Permata Inovasi Indonesia Tbk...

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Populer 7 Hari

Berita Terbaru