STOCKWATCH.ID (NEW YORK) – Presiden Amerika Serikat Donald Trump melengserkan Presiden Nicolas Maduro di Venezuela. Gejolak politik di negara kaya minyak tersebut diprediksi tidak akan mengguncang pasar energi dalam waktu dekat.
Mengutip CNBC International, para analis menyampaikan hal tersebut pada Sabtu (3/1/2026) waktu setempat atau Minggu (4/1/2026) WIB. Meskipun serangan Amerika Serikat tidak terduga, pasar sudah memperhitungkan risiko konflik tersebut. Gangguan ekspor minyak Venezuela dinilai sudah masuk dalam perhitungan harga pasar saat ini.
Kepala Analis dan Riset A/S Global Risk Management Arne Lohmann Rasmussen memberikan pandangannya. Venezuela merupakan anggota pendiri OPEC dengan cadangan minyak terbukti terbesar di dunia. Namun, saat ini negara tersebut hanya memproduksi kurang dari satu juta barel minyak per hari.
Jumlah produksi ini setara dengan kurang dari 1% produksi minyak global. Rasmussen menyebut Venezuela hanya mengekspor sekitar setengah dari hasil produksinya atau sebanyak 500.000 barel. Kondisi pasar global saat ini juga sedang mengalami kelebihan pasokan.
Permintaan minyak tercatat masih relatif lemah pada kuartal pertama tahun ini. Rasmussen memperkirakan harga minyak mentah Brent hanya akan naik sekitar US$1 hingga US$2.
Kenaikan harga tersebut dinilai berpotensi lebih rendah saat perdagangan berjangka dibuka pada Minggu malam.
Ia memproyeksikan harga Brent pekan depan justru bergerak lebih rendah dari penutupan Jumat di level US$ 60,75 per barel. Masih terlalu banyak pasokan minyak di pasar global untuk mendorong kenaikan harga secara drastis.
“Meskipun ini merupakan peristiwa geopolitik besar yang biasanya Anda harapkan menjadi positif atau mendorong harga minyak naik, intinya adalah masih terlalu banyak minyak di pasar, dan itulah sebabnya harga minyak tidak akan melonjak tajam,” ujar Rasmussen.
Analis Rapidan Energy Bob McNally turut memberikan saran kepada para kliennya. Ia menilai sekitar sepertiga produksi minyak Venezuela berada dalam risiko. Meski begitu, McNally tidak memprediksi seluruh produksi Venezuela akan terputus.
Kondisi ini tidak akan menimbulkan risiko berarti bagi pasar minyak dalam jangka pendek. Pasar minyak pada 2025 sendiri mencatat penurunan tahunan terbesar dalam lima tahun terakhir. Harga acuan global Brent turun sekitar 19% tahun lalu, sementara minyak mentah Amerika Serikat anjlok hampir 20%.
Tekanan pasar terjadi akibat kebijakan OPEC+ meningkatkan produksi setelah bertahun-tahun melakukan pemotongan. Amerika Serikat juga memproduksi minyak pada level rekor lebih dari 13,8 juta barel per hari.
Harga minyak berpotensi turun lebih jauh seiring kemungkinan peningkatan produksi Venezuela di masa depan. Kepala Riset Energi MST Financial Saul Kavonic memperkirakan ekspor bisa mendekati 3 juta barel dalam jangka menengah. Hal tersebut dapat terjadi jika pemerintahan baru Venezuela berhasil mencabut sanksi dan menarik investor asing.
Mantan pejabat energi Departemen Luar Negeri era Obama, David Goldwyn, menilai masa depan Venezuela justru berdampak negatif pada harga (bearish). “Jika ada, masa depan Venezuela akan berdampak bearish pada pasar, karena tidak ada tempat lain untuk pergi selain naik,” tuturnya.
Saat ini embargo terhadap minyak Venezuela masih berlaku menurut pernyataan Trump pada konferensi pers Sabtu. Trump menyebut perusahaan minyak Amerika Serikat akan berinvestasi miliaran dolar untuk membangun kembali sektor energi Venezuela.
Namun, Trump belum memberikan rincian perusahaan mana yang akan berinvestasi. Ia juga tidak menjelaskan teknis Amerika Serikat menjalankan Venezuela sementara waktu melalui sebuah kelompok. Goldwyn berpendapat sulit memprediksi minat investasi perusahaan minyak Amerika Serikat saat ini.
Ketidakpastian mengenai pemerintahan transisi menjadi alasan utama keraguan investor. Pelajaran dari transisi pemerintahan di Irak dan Afganistan menunjukkan proses tersebut sangat sulit. Tidak ada perusahaan mau berkomitmen investasi miliaran dolar tanpa mengetahui ketentuan hukum yang jelas.
Sejumlah perusahaan termasuk Exxon Mobil masih menunggu penagihan utang dari perusahaan minyak nasional Venezuela, PDVSA. McNally menambahkan produsen minyak belum lupa saat mereka diusir dari Venezuela pada awal 2000-an. Saat itu, negara tersebut menyita aset perusahaan minyak asing.
Akses ke cadangan minyak terbesar dunia memang sangat menggoda jika sanksi dicabut. Namun, proses ini membutuhkan investasi miliaran dolar selama puluhan tahun. Pertanyaan utamanya adalah apakah dunia membutuhkan minyak sebanyak itu di masa depan.
Sebelumnya, konsensus pasar memperkirakan permintaan minyak akan berhenti tumbuh dalam empat tahun. Tren kendaraan listrik dan kebijakan iklim menjadi pemicu utamanya. Kini pandangan tersebut mulai berubah.
Melemahnya kebijakan iklim di Amerika Serikat, China, dan Kanada membuat prospek investasi minyak kembali menarik. Penjualan kendaraan listrik yang turun membuat kebutuhan minyak diprediksi tetap tinggi. “Tiba-tiba Anda mulai berkata: ‘Wah, kita akan membutuhkan lebih banyak minyak’,” pungkas McNally.
