STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – Saham PT Diamond Citra Propertindo Tbk (DADA) mencatatkan pergerakan harga yang dinamis pada perdagangan Kamis (8/1/2026). Hingga pukul 14.31 WIB, harga saham DADA berada di posisi Rp65 per lembar.
Angka ini menunjukkan kenaikan Rp5 atau sekitar 8,33% jika dibandingkan penutupan hari sebelumnya. Pada hari ini, saham dibuka di level Rp60. Harga tertinggi sempat menyentuh Rp71, sementara harga terendah berada di Rp59 per lembar.
Sehari sebelumnya, Rabu (7/1/2026), saham DADA ditutup menguat ke level Rp60. Posisi tersebut naik Rp10 atau setara 20,00% dibandingkan penutupan sebelumnya di harga Rp50. Volume transaksi pada hari itu terpantau sangat besar, mencapai 9.381.075.100 lembar saham.
Kapitalisasi pasar DADA pada perdagangan Rabu tercatat sebesar Rp445,89 miliar. Pada perdagangan Kamis siang, nilai kapitalisasi pasar meningkat menjadi sekitar Rp490,48 miliar. Rasio harga terhadap laba atau price to earnings berada di level 255,36.
Perusahaan juga membukukan imbal hasil dividen atau dividend yield sebesar 0,22%. Jumlah dividen tunai per kuartal tercatat senilai Rp0,04 per saham. Pergerakan saham ini mulai menyita perhatian pelaku pasar dalam beberapa hari terakhir.
Direktur & CEO PT Diamond Citra Propertindo Tbk, Bayu Setiawan, memberikan tanggapan terkait kondisi ini. Menurutnya, lonjakan kinerja laba perusahaan menjadi faktor utama yang menjadi sorotan. Laporan keuangan terakhir menunjukkan pertumbuhan signifikan mencapai ratusan persen dari kuartal II ke kuartal III.
“Ini menunjukkan perusahaan tidak hanya bertahan, tetapi berhasil melakukan akselerasi bisnis secara nyata,” tegas Bayu Setiawan, di Jakarta, Kamis (8/1/2026).
Ia menilai kenaikan laba sebesar ini biasanya menjadi sinyal awal nilai valuasi lama sudah tidak lagi relevan. Harga saham di level Rp50 mulai dianggap tidak mencerminkan kondisi fundamental terkini.
“ini artinya bagi investor jangka menengah hingga panjang, pergerakan semacam ini sering dibaca sebagai sinyal awal dari proses re-rating valuasi. Dimana pasar mulai menyesuaikan harga saham dengan prospek dan fundamental perusahaan yang sebelumnya belum sepenuhnya tercermin,” papar Bayu Setiawan.
Pihaknya menegaskan pergerakan saham DADA kali ini memiliki pijakan yang lebih kuat. Kondisi ini berbeda dengan saham-saham yang naik hanya karena rumor atau sentimen sesaat. Data kinerja riil perseroan menjadi faktor pembeda utama yang mendorong perubahan persepsi pasar.
Situasi tersebut membuat sebagian pelaku pasar mulai menggeser strategi. Mereka beralih dari sekadar perdagangan jangka pendek menuju pendekatan menyimpan saham dalam waktu lebih lama.
Secara year to date, harga tertinggi saham DADA tercatat di level Rp60 pada 7 Januari 2026. Harga terendah tahun berjalan berada di posisi Rp50 pada 2 Januari 2026. Dalam rentang 52 minggu, saham ini bergerak di kisaran Rp6 hingga Rp240 per lembar.
Investor tetap perlu mencermati berbagai faktor risiko di masa depan. Kondisi makroekonomi global, daya beli masyarakat, serta realisasi kinerja keuangan pada kuartal mendatang tetap menjadi kunci utama.
“Ke depan, saham DADA berpeluang melanjutkan penguatan apabila perseroan mampu menjaga kinerja penjualan, merealisasikan proyek sesuai rencana, serta menghadirkan katalis korporasi yang memberikan nilai tambah bagi pemegang saham. Di tengah mulai bangkitnya sektor properti, DADA berpotensi menjadi salah satu emiten yang ikut menikmati momentum pemulihan tersebut,” ujar Bayu Setiawan.
