STOCKWATCH.ID (CHICAGO) – Harga emas dunia kembali mencetak rekor tertinggi sepanjang masa pada perdagangan Selasa (13/1/2026) waktu setempat atau Rabu pagi (14/1/2026) WIB. Data inflasi Amerika Serikat (AS) memperkuat spekulasi pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve (The Fed) tahun ini. Permintaan aset aman (safe-haven) juga terus meningkat akibat ketidakpastian geopolitik dan ekonomi.
Mengutip CNBC International, harga emas spot sempat menyentuh rekor USD 4.634,33 per ons sebelum stabil di level USD 4.591,49 per ons. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Februari ditutup melemah tipis 0,3% pada posisi USD 4.599,10.
Indeks Harga Konsumen (CPI) inti AS tercatat naik 0,2% secara bulanan dan 2,6% secara tahunan pada Desember. Angka ini berada di bawah ekspektasi para analis sebesar 0,3% dan 2,7%. Data yang lebih rendah ini memicu optimisme pasar terhadap kebijakan moneter ke depan.
“Alasan nada positif di seluruh pasar adalah data CPI yang jinak (yang) menunjukkan kemungkinan yang lebih tinggi bagi pemangkasan suku bunga Fed di masa depan,” ujar David Meger, Direktur Perdagangan Logam di High Ridge Futures.
Presiden Donald Trump kembali mendesak pemotongan suku bunga secara signifikan setelah rilis data inflasi tersebut. The Fed diprediksi tetap mempertahankan suku bunga pada pertemuan akhir Januari mendatang. Namun, para pelaku pasar memperkirakan akan ada dua kali penurunan suku bunga sepanjang tahun ini. Suku bunga rendah biasanya memberikan keuntungan bagi aset tanpa bunga seperti emas.
David Meger menambahkan faktor fundamental seperti ketegangan geopolitik dan pertanyaan atas independensi Fed terus mendukung emas sebagai aset aman. Kekhawatiran ini meningkat seiring langkah pemerintahan Trump membuka penyelidikan kriminal terhadap Ketua Fed, Jerome Powell. Kebijakan tersebut menuai kritik dari mantan pimpinan Fed dan bank sentral global lainnya.
Tensi geopolitik turut memanas setelah Trump mengancam pengenaan tarif 25% bagi negara-negara yang berdagang dengan Iran. Langkah ini berisiko memperburuk hubungan AS dengan Beijing. Di sisi lain, serangan misil dan drone Rusia ke berbagai kota di Ukraina memperpanjang ketidakpastian global.
Melihat kondisi ini, Commerzbank menaikkan perkiraan harga emas akhir tahun 2026 menjadi USD 4.900. Di saat bersamaan, CME Group mengumumkan penyesuaian pengaturan margin untuk logam mulia guna mengatasi volatilitas pasar yang tinggi.
Logam mulia lainnya, perak spot, menguat 2,1% ke level USD 86,74 per ons. Perak sempat mencapai rekor tertinggi sepanjang masa di posisi USD 89,10 pada sesi tersebut.
“Meskipun indikator teknis berteriak koreksi, para pedagang terus mendukung opsi bullish (untuk perak)… Investor harus bersiap untuk pergerakan balik yang tajam dalam lingkungan volatilitas tinggi ini, bahkan ketika bias bullish yang lebih luas tetap utuh,” kata Hugo Pascal, pedagang logam mulia di InProved.
Sementara itu, harga platinum spot terpantau stabil pada level USD 2.343,35 per ons. Sedangkan harga paladium naik 1,4% menjadi USD 1.868,68 per ons pada akhir perdagangan.
