back to top
Selasa, Januari 27, 2026
27.2 C
Jakarta

Harga Minyak Dunia Terkoreksi, Investor Pantau Dampak Badai dan Tensi AS-Iran

STOCKWATCH.ID (HOUSTON) – Harga minyak mentah dunia ditutup sedikit lebih rendah pada akhir perdagangan Senin (26/1/2026) waktu setempat atau Selasa pagi (27/1/2026) WIB. Pelemahan ini terjadi setelah harga minyak melonjak lebih dari 2% pada sesi sebelumnya. Investor kini mengevaluasi dampak badai musim dingin terhadap produksi minyak Amerika Serikat (AS) serta ketegangan antara AS dan Iran.

Mengutip CNBC International, harga minyak mentah Brent untuk pengiriman Maret turun 0,29 USD atau 0,4%. Harga minyak acuan global ini ditutup pada level 65,59 USD per barel, di London ICE Futures Exchange.

Adapun harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) jatuh 0,44 USD atau 0,7%. Minyak WTI berakhir pada posisi 60,63 USD per barel, di New York Mercantile Exchange.

Kedua tolok ukur harga minyak tersebut sebelumnya mencatatkan kenaikan mingguan sebesar 2,7%. Pada penutupan Jumat lalu, harga minyak mencapai level tertinggi sejak 14 Januari.

Para produsen minyak AS kehilangan hingga 2 juta barel per hari akibat badai musim dingin yang menerjang akhir pekan lalu. Jumlah ini setara sekitar 15% dari total produksi nasional. Badai tersebut menekan infrastruktur energi dan jaringan listrik di berbagai wilayah.

Penurunan produksi minyak mencapai puncaknya pada hari Sabtu. Konsultan Energy Aspects memperkirakan wilayah Permian Basin mengalami penurunan terbesar sekitar 1,5 juta barel per hari. Namun, kerugian produksi mulai berkurang pada hari Senin.

Pengurangan produksi di wilayah Permian kini diperkirakan tinggal sekitar 700.000 barel per hari. Produksi minyak diprediksi pulih sepenuhnya pada 30 Januari mendatang.

Laporan gangguan pada pabrik pengolahan gas alam dan stasiun kompresor di Texas juga mulai terkendali. Analis TACenergy mencatat gangguan kali ini jauh lebih sedikit dibandingkan badai besar pada tahun 2021 silam.

Kementerian Energi Kazakhstan menyatakan siap untuk melanjutkan produksi di ladang minyak terbesarnya. Meski demikian, sumber industri menyebut volumenya masih rendah. Kondisi force majeure pada ekspor campuran CPC juga masih berlaku.

Caspian Pipeline Consortium melaporkan terminal Laut Hitam telah kembali ke kapasitas muat penuh. Hal ini dilakukan setelah pemeliharaan di salah satu titik tambat selesai.

Analis menilai para pedagang tetap waspada terhadap risiko geopolitik. Ketegangan antara AS dan Iran membuat investor tetap merasa cemas.

Presiden AS Donald Trump pekan lalu mengatakan AS memiliki “armada” yang menuju Iran. Ia berharap tidak perlu menggunakannya. Trump kembali memperingatkan Teheran agar tidak membunuh pengunjuk rasa atau memulai kembali program nuklirnya.

Di wilayah lain, Kolombia menangguhkan penjualan listrik ke Ekuador. Negara tersebut juga akan mengenakan tarif 30% pada 20 produk dari negara tetangganya itu.

Pihak Iran bereaksi keras atas ancaman yang muncul. Seorang pejabat senior Iran pada Jumat lalu menyatakan Iran akan memperlakukan serangan apa pun sebagai perang habis-habisan terhadap mereka.

Dennis Kissler, Senior Vice President of Trading di BOK Financial, memberikan pandangannya terkait kondisi pasar. Ia melihat pasar masih dalam posisi menunggu.

“Secara keseluruhan, minyak mentah tetap dalam pola perdagangan tipe bertahan sampai lebih banyak diketahui tentang bagaimana Administrasi Trump akan menangani Iran,” ujar Kissler.

Ia menambahkan beberapa faktor tetap menjadi titik tekanan bagi harga minyak dunia. Situasi politik internasional menjadi faktor kunci yang diperhatikan pasar.

“Pembicaraan damai Ukraina/Rusia/AS yang berlanjut, dan OPEC yang menyatakan mereka kemungkinan akan tetap pada jalur produksi saat ini pada pertemuan berikutnya, tetap menjadi titik tekanan bagi harga,” tambah Kissler.

OPEC+ diperkirakan tetap menahan peningkatan produksi minyak untuk bulan Maret. Keputusan ini kemungkinan besar diambil pada pertemuan hari Minggu mendatang.

Di sisi lain, Jarand Rystad, CEO Rystad Energy, memprediksi potensi penurunan produksi shale AS. Produksi bisa turun hingga 400.000 barel per hari pada 2026 jika negara-negara OPEC mencoba meningkatkan pangsa pasar dan harga minyak jatuh ke level 40 USD per barel.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Harga Emas Dunia Melejit Tembus USD 5.100, Investor Buru Aset Aman

STOCKWATCH.ID (CHICAGO) – Harga emas dunia kembali mencetak rekor...

Harga Perak Cetak Sejarah Tembus USD 100, Emas Selangkah Lagi Capai USD 5.000

STOCKWATCH.ID (NEW YORK) – Harga perak dunia mencetak sejarah...

AS Kirim Armada ke Iran dan Jatuhkan Sanksi Baru, Harga Minyak Dunia Meroket 3%

STOCKWATCH.ID (HOUSTON) – Harga minyak dunia melambung hampir 3%...

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Populer 7 Hari

Berita Terbaru