back to top
Selasa, Januari 27, 2026
29.3 C
Jakarta

Kemenperin Dukung Penguatan Baja Nasional, Perusahaan Ini Bangun Pabrik Baru Senilai Rp1,5 Triliun di Purwakarta

STOCKWATCH.ID (PURWAKARTA) – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus memperkuat struktur industri logam nasional. Langkah ini bertujuan menopang pertumbuhan ekonomi dan mendukung industrialisasi berkelanjutan. Salah satu upaya nyata ditandai dengan peletakan batu pertama (ground breaking) fasilitas Continuous Galvanizing Line (CGL) 2 PT Tata Metal Lestari di Purwakarta, Jawa Barat.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengapresiasi penambahan investasi ini. Industri baja memiliki peran strategis untuk pembangunan infrastruktur dan pengembangan teknologi. Sektor tersebut juga mendukung industri otomotif hingga energi.

“Industri baja nasional memiliki peran strategis dalam upaya mendukung pembangunan infrastruktur, pengembangan teknologi, serta penguatan industri turunan seperti permesinan, otomotif, galangan kapal, dan sektor energi,” ujar Agus Gumiwang Kartasasmita dalam keterangannya, Senin (26/1).

Kemenperin mencatat produksi baja nasional tumbuh pesat dalam lima tahun terakhir. Kenaikan produksi mencapai hampir 98,5% dibandingkan tahun 2019 yang sebesar 8,5 juta ton. Capaian ini mencerminkan kapasitas industri baja nasional yang semakin kompetitif.

Pemerintah terus mengoptimalkan berbagai kebijakan strategis untuk memacu kinerja sektor ini. Beberapa di antaranya meliputi penerapan Standar Nasional Indonesia (SNI) wajib dan fasilitas Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT). Kemenperin juga memberikan insentif fiskal serta menerapkan prinsip industri hijau.

Direktur Industri Logam Kemenperin Dodiet Prasetyo hadir mewakili Direktur Jenderal ILMATE Setia Diarta. Dodiet berharap fasilitas ini dapat beroperasi optimal dan memberikan kontribusi nyata bagi ekonomi. Pembangunan CGL 2 ini diproyeksi memperkuat ekosistem hulu sampai hilir.

“Kami berharap fasilitas ini dapat beroperasi optimal, berdaya saing, serta memberikan kontribusi nyata bagi pertumbuhan ekonomi nasional dan penguatan industri dalam negeri,” kata Dodiet Prasetyo pada acara Ground Breaking di Purwakarta.

VP of Operations PT Tata Metal Lestari Stephanus Koeswandi menjelaskan pembangunan CGL 2 merupakan komitmen perusahaan memperkuat industri antara (midstream). Industri antara menjadi penghubung krusial antara sektor hulu dan hilir. Tanpa sektor antara yang kuat, rantai pasok akan rapuh dan ketergantungan impor tetap tinggi.

“Industri antara memiliki peran krusial sebagai penghubung antara industri hulu dan hilir. Tanpa sektor ini yang kuat, rantai pasok akan rapuh dan ketergantungan impor terus tinggi,” ungkap Stephanus Koeswandi.

PT Tata Metal Lestari telah mengekspor produk baja lapis ke 25 negara. Pasar ekspor perusahaan mencakup Amerika Serikat (USD) hingga Eropa. Fasilitas baru ini akan memproduksi 250 ribu ton baja lapis per tahun.

Kapasitas tersebut melengkapi total produksi 500 ribu ton baja lapis per tahun yang sudah ada di CGL 1 Cikarang. Perusahaan menargetkan kapasitas terpasang hingga 2,5 juta ton dalam 10 tahun ke depan. Untuk teknologi, mereka menggandeng Tenova asal Italia agar proses produksi lebih efisien dan ramah lingkungan.

“Pembangunan CGL 2 ini merupakan bagian dari peta jalan kami untuk mencapai kapasitas terpasang hingga 2,5 juta ton baja lapis secara bertahap hingga 10 tahun ke depan, sekaligus mendukung program Peningkatan Penggunaan Produk Dalam Negeri (P3DN) dan menghadirkan produk Made in Indonesia berstandar global,” jelas Stephanus Koeswandi.

Investasi lanjutan ini mencapai nilai total Rp1,5 triliun. Proyek tersebut diperkirakan akan menyerap tenaga kerja tambahan sekitar 350 orang. Teknologi pelapisan yang digunakan diklaim mampu meningkatkan umur penggunaan baja hingga empat kali lipat.

“Ini merupakan bagian dari komitmen investasi lanjutan dari total Rp1,5 triliun, yang akan menambah tenaga kerja sekitar 350 orang. Proyek kami ini merupakan line yang pertama di South East Asia, yang menggunakan teknologi pelapisan zinc magnesium dan zinc aluminium magnesium, sehingga dapat meningkatkan umur penggunaan baja hingga empat kali,” pungkas Stephanus Koeswandi.

- Advertisement -

Artikel Terkait

LPS Surplus Rp33,8 Triliun Sepanjang 2025, Siap Masuk Fase “Great Leap” di 2026

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) menorehkan kinerja...

LPS Pertahankan Tingkat Bunga Penjaminan, Berlaku Hingga Mei 2026

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) memutuskan untuk...

Bank Indonesia, Uang Beredar Tumbuh 9,6% Jadi Rp10.133,1 Triliun pada Desember 2025

STOCKWATCH.ID (JAKARTA)  - Bank Indonesia (BI) mengumumkan bahwa likuiditas...

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Populer 7 Hari

Berita Terbaru