STOCKWATCH.ID (NEW YORK) – Bursa saham Amerika Serikat atau Wall Street ditutup bervariasi pada akhir perdagangan Rabu sore (28/1/2026) waktu setempat atau Kamis pagi (29/1/2026) WIB. Indeks S&P 500 sempat mencetak sejarah dengan menembus level psikologis 7.000 untuk pertama kalinya.
Mengutip CNBC International, indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) di Bursa Efek New York naik tipis 12,19 poin atau 0,02% ke level 49.015,60. Indeks S&P 500 (SPX) terkoreksi tipis 0,01% dan berakhir di posisi 6.978,03. Sementara itu, indeks komposit Nasdaq (IXIC) yang didominasi saham teknologi, menguat 0,17% menjadi 23.857,45.
S&P 500 sempat melonjak 0,3% pada sesi perdagangan tersebut. Hal ini membawa indeks ke rekor tertinggi sepanjang masa di level 7.002,28. Namun, penguatan menyusut setelah Bank Sentral AS atau The Fed mengumumkan keputusan suku bunga terbaru.
The Fed memilih untuk mempertahankan suku bunga acuan pada kisaran 3,5% hingga 3,75%. Dalam pernyataannya, bank sentral menyebutkan aktivitas ekonomi telah “berekspansi pada kecepatan yang solid”. Angka pengangguran juga dinilai telah “menunjukkan beberapa tanda stabilisasi”.
Ketua The Fed, Jerome Powell memberikan penjelasan dalam konferensi persnya. Ia menilai kebijakan saat ini masih cukup akomodatif.
“Saya pikir, dan banyak rekan saya berpikir, sulit untuk melihat data yang masuk dan mengatakan kebijakan tersebut sangat membatasi pada saat ini,” ujar Jerome Powell.
Manajer Portofolio Argent Capital Management, Jed Ellerbroek memperkirakan The Fed akan terus menahan suku bunga. Hal ini diprediksi bertahan hingga masa jabatan Jerome Powell berakhir pada Mei mendatang.
“Ada sedikit ketegangan antara inflasi yang sedikit lebih tinggi dari yang mereka inginkan dan pengangguran yang meningkat, jadi mereka berada di posisi yang kira-kira netral, dan mereka merasa nyaman duduk di sana sampai data berubah dan memaksa mereka untuk memilih salah satu pihak,” kata Jed Ellerbroek.
Ia juga menambahkan situasi politik akan mulai berpengaruh. “Bola kini berpindah ke lapangan Presiden Trump, karena ia akan menominasikan ketua Fed yang baru.”
Sektor cip sempat mendorong kenaikan pasar di awal sesi. Saham Seagate Technology melonjak 19% karena kinerja keuangan kuartal kedua melampaui ekspektasi. CEO Seagate Technology, Dave Mosley menyebutkan ada permintaan kuat untuk penyimpanan data kecerdasan buatan (AI).
Di sisi lain, raksasa peralatan semikonduktor ASML mencatat rekor pesanan baru. Perusahaan ini juga memberikan panduan cerah untuk tahun 2026 akibat lonjakan AI. Namun, saham ASML justru berbalik arah dan turun 2% pada akhir sesi.
Jed Ellerbroek menjelaskan dinamika industri semikonduktor saat ini. Menurutnya, pasar sedang mengalami pergeseran permintaan.
“Kisah untuk tahun 2023, 2024, sebagian besar tahun 2025 adalah semikonduktor terkait AI — luar biasa, permintaan besar. Semua sumber permintaan semikonduktor lainnya, baik itu otomotif atau industri atau telekomunikasi, dll. — lemah. Hal itu telah bergeser sekarang,” tutur Jed Ellerbroek. Ia menekankan saat ini permintaan jauh melampaui pasokan di hampir semua lini semikonduktor.
Investor kini menantikan laporan laba dari sejumlah raksasa teknologi. Microsoft, Meta Platforms, dan Tesla dijadwalkan merilis kinerja keuangan mereka setelah penutupan pasar Rabu. Sementara itu, Apple akan merilis laporannya pada Kamis waktu setempat.
Dari sektor konsumsi, saham Starbucks ditutup melemah 0,6%. Jaringan kedai kopi global ini melaporkan laba kuartal pertama yang meleset dari target analis. Meski demikian, pendapatan Starbucks tercatat masih melampaui ekspektasi pasar.
