STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN) atau BTN tengah menyiapkan serangkaian langkah strategis untuk memperkuat posisi bisnisnya pada tahun 2026. Bank spesialis pembiayaan perumahan ini berencana melakukan ekspansi anorganik hingga penguatan modal melalui instrumen surat utang.
Melalui surat resmi kepada Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 28 Januari 2026, manajemen BTN memberikan penjelasan mendalam terkait berbagai rencana yang menjadi sorotan media massa tersebut.
Rencana Akuisisi Perusahaan Asuransi
Salah satu poin utama yang menjadi perhatian adalah keinginan BTN untuk merambah bisnis asuransi. Langkah ini menjadi bagian dari strategi pertumbuhan anorganik bank pelat merah tersebut.
Corporate Secretary BTN, Ramon Armando, menjelaskan rencana ini sudah tertuang dalam Rencana Bisnis Bank (RBB) tahun 2026. Saat ini, prosesnya masih dalam tahap kajian mendalam.
“Sebagaimana tertuang dalam RBB Perseroan tahun 2026, terdapat rencana pengembangan Perseroan secara anorganik melalui akuisisi perusahaan asuransi,” ujar Ramon Armando dalam keterbukaan informasi dikutip Kamis (29/1/2026).
Ia menambahkan manajemen terus menjalin koordinasi dengan pemegang saham pengendali terkait rencana tersebut. Perseroan berkomitmen untuk selalu mematuhi seluruh ketentuan regulasi yang berlaku dalam setiap tahapan proses akuisisi.
Penguatan Modal Tier II Senilai Rp2 Triliun
Selain ekspansi bisnis, BTN juga fokus pada penguatan struktur permodalan. Perseroan memberikan klarifikasi mengenai kabar rencana penerbitan modal Tier II sebesar Rp2 triliun pada semester II tahun 2026.
Ramon Armando menyebutkan rencana tersebut merupakan bagian dari skema penguatan modal tahunan. Namun, mekanisme dan instrumen yang akan digunakan belum diputuskan secara final.
“Perseroan berencana melakukan penguatan permodalan sebagaimana Rencana Bisnis Bank (‘RBB’) Perseroan untuk tahun 2026 melalui berbagai alternatif skema penguatan permodalan, termasuk modal tier II,” ungkapnya.
Penentuan instrumen ini akan tetap memperhatikan ketentuan Kewajiban Penyediaan Modal Minimum (KPMM) dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Hingga saat ini, rencana tersebut masih dalam tahap pengkajian oleh internal perseroan.
Incar Dana Rp4 Triliun dari Obligasi
Langkah strategis lainnya yang terungkap adalah rencana penerbitan obligasi dengan nilai mencapai Rp4 triliun. Surat utang ini diproyeksikan sebagai modal untuk ekspansi bisnis serta penguatan struktur pendanaan bank.
Rencana ini merupakan kelanjutan dari Penawaran Umum Berkelanjutan (PUB) Obligasi Berwawasan Sosial dan PUB Obligasi Subordinasi Tahap I yang telah dirilis pada Desember 2025 lalu.
“Rencana penerbitan Obligasi di tahun 2026 tersebut merupakan salah satu alternatif penguatan permodalan atau ekspansi bisnis yang disampaikan kepada OJK dalam RBB Perseroan tahun 2026,” jelas Ramon.
Keputusan mengenai nilai pasti dan waktu penerbitan akan sangat bergantung pada kebutuhan finansial serta kondisi pasar di masa mendatang. Manajemen BTN memastikan akan meminta persetujuan sesuai prosedur perundang-undangan sebelum instrumen ini dilempar ke pasar.
Kondisi Perusahaan Tetap Stabil
Menutup penjelasannya, Ramon Armando menegaskan hingga saat ini belum ada rencana aksi korporasi lain di luar poin-poin yang telah disampaikan. Ia juga memastikan tidak ada informasi atau kejadian material yang dapat mengganggu kelangsungan hidup perusahaan.
Pergerakan harga saham BTN di bursa tetap dipantau secara saksama. Perseroan menjamin transparansi informasi kepada investor dan publik tetap menjadi prioritas utama. Seluruh langkah strategis ini diharapkan mampu membawa BTN tumbuh lebih tangguh di industri perbankan nasional.
