back to top

Aksi Jual Berlanjut, Harga Emas Dunia Anjlok Lagi Lebih dari 4%

STOCKWATCH.ID (CHICAGO) – Harga emas dunia kembali mencatat penurunan pada perdagangan Senin (1/2/2026) waktu setempat atau Selasa pagi (2/2/2026) WIB. Penurunan ini memperpanjang kerugian besar setelah aksi jual besar-besaran pada akhir pekan lalu. Sentimen pasar tertekan oleh penguatan dolar Amerika Serikat (AS) dan perubahan kepemimpinan di Federal Reserve (The Fed).

Mengutip CNBC International, harga emas spot merosot lebih dari 4% ke kisaran USD 4.662,43 per ons troi. Harga perak spot juga jatuh lebih dari 6% menjadi USD 78,86 per ons troi. Di pasar berjangka, kontrak emas ditutup turun 1% ke posisi USD 4.694,60 per ons troi.

Indeks dolar AS terpantau menguat sekitar 0,8% sejak Kamis pekan lalu. Kondisi ini membuat emas yang dihargai dalam dolar menjadi kurang menarik bagi pembeli luar negeri. Kenaikan suku bunga juga meningkatkan biaya peluang memegang emas yang tidak memberikan imbal hasil.

José Torres, Ekonom Senior di Interactive Brokers, memberikan analisanya mengenai kondisi pasar saat ini. Ia menyoroti kembalinya perdagangan bertema “Buy America”. Hal ini terjadi setelah Presiden Donald Trump menominasikan Kevin Warsh sebagai calon Ketua The Fed menggantikan Jerome Powell.

“Perdagangan ‘Buy America’ kembali sebagai hasilnya, dan tawaran kemandirian yang mendorong emas serta perak ke rekor ketinggian yang sangat tinggi tepat di bawah USD 5.600 dan USD 122 per ons pada Kamis pagi mulai terurai,” ujar José Torres.

Sentimen pasar juga dipengaruhi oleh kebijakan CME Group. Mereka menaikkan persyaratan margin untuk perdagangan emas dan perak mulai Senin setelah pasar tutup. Margin kontrak berjangka emas naik dari 6% menjadi 8%, sementara perak naik dari 11% menjadi 15%.

Langkah Trump menominasikan Kevin Warsh memperkuat nilai tukar dolar AS. Warsh selama ini dikenal sebagai sosok yang mendukung kebijakan moneter lebih ketat. Selain itu, pernyataan Trump mengenai kemungkinan kesepakatan dengan Iran ikut meredakan kekhawatiran geopolitik global.

Christopher Forbes, Kepala Asia dan Timur Tengah di CMC Markets, menilai penurunan harga emas merupakan koreksi yang wajar. Ia menyebut fenomena ini terjadi setelah reli luar biasa dalam beberapa waktu terakhir.

“Kemunduran emas adalah ‘kantong udara klasik setelah pergerakan luar biasa’. Aksi ambil untung, dolar yang lebih kuat, dan berita geopolitik baru dari Washington telah menghilangkan buih dari perdagangan yang padat,” kata Christopher Forbes.

Meskipun mengalami penurunan tajam, harga perak masih mencatatkan kenaikan sekitar 16% sejak awal tahun. Harga emas juga tetap berada 8% lebih tinggi dibandingkan posisi awal tahun. Forbes memperkirakan harga emas masih berpotensi kembali ke level tertinggi jika The Fed tetap melanjutkan pelonggaran kebijakan.

“Pelemahan dolar yang kembali terjadi atau konfirmasi mengenai Warsh yang bersikap dovish akan membawa pembeli kembali,” tambah Forbes.

Koreksi harga emas dan perak ini diperkirakan masih akan berlangsung dalam beberapa minggu ke depan. Investor kini menunggu kejelasan lebih lanjut mengenai arah kebijakan moneter yang akan diambil oleh Kevin Warsh nantinya.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Harga Emas dan Perak Bangkit dari Keterpurukan, Saham Tambang Global Ikut Menghijau

STOCKWATCH.ID (CHICAGO) – Harga emas dan perak dunia bangkit...

AS Tembak Jatuh Drone Iran, Harga Minyak Dunia Melambung 1% Lebih

STOCKWATCH.ID (HOUSTON) – Harga minyak dunia ditutup menguat pada...

Populer 7 Hari

Berita Terbaru