STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) membukukan laba bersih konsolidasi Rp20,0 triliun sepanjang tahun 2025. Perolehan ini turun 6,63% dibandingkan laba bersih BBNI pada 2024 yang mencapai Rp 21,46 triliun.
Penyaluran kredit yang tumbuh 15,9% dibandingkan periode yang sama tahun 2024 (YoY). Selain kredit, bank pelat merah ini memperkuat struktur pendanaan melalui pertumbuhan dana murah (CASA). Hingga akhir 2025, CASA BNI melonjak tajam 28,9% YoY. Kenaikan ini didorong oleh pertumbuhan giro sebesar 43,8% YoY serta tabungan yang naik 11,2% YoY.
Direktur Utama BNI, Putrama Wahju Setyawan menjelaskan capaian ini mencerminkan ketahanan model bisnis perusahaan. Transformasi yang dijalankan fokus pada penguatan fundamental serta produktivitas berkelanjutan.
“BNI mampu menjaga pertumbuhan yang sehat dengan fokus pada pendanaan yang kuat, disiplin risiko, serta ekspansi kredit ke sektor-sektor produktif,” ujar Putrama dalam keterangan resmi di Jakarta, Selasa (3/2/2026).
Dari sisi pendapatan, BNI mencatatkan Pendapatan Bunga Bersih (NII) sebesar Rp40,3 triliun. Pendapatan non-bunga juga ikut terkerek 5,2% YoY menjadi Rp24,6 triliun. Hal ini dipicu peningkatan transaksi digital, treasury, hingga trade finance.
Performa operasional menunjukkan grafik meningkat, terutama pada kuartal IV 2025. BNI meraih Pendapatan Operasional sebelum Pencadangan (PPOP) sebesar Rp9,4 triliun. Angka ini menjadi pencapaian tertinggi dibandingkan tiga kuartal sebelumnya pada tahun yang sama.
Direktur Finance & Strategy BNI, Hussein Paolo Kartadjoemena menyebut strategi diversifikasi menjadi kunci utama. Pengelolaan neraca difokuskan pada keseimbangan antara bisnis dan efisiensi biaya dana.
“Strategi pertumbuhan kredit yang terdiversifikasi menjadi kunci dalam menjaga kualitas portofolio di tengah perlambatan ekonomi global,” kata Paolo.
Kualitas aset BNI juga terpantau semakin sehat. Rasio kredit bermasalah atau Non-Performing Loan (NPL) bruto berada di level 1,9%, membaik 10 bps dari tahun sebelumnya. Sementara itu, Loan at Risk (LaR) turun ke angka 8,5% atau membaik 1,8% YoY.
Kekuatan modal BNI pun berada pada posisi yang sangat aman. Rasio kecukupan modal (CAR) mencapai 20,7%. Posisi ini memberikan ruang lebar bagi perseroan untuk ekspansi bisnis pada masa depan.
Di sektor digital, aplikasi wondr by BNI sukses menjaring lebih dari 12 juta pengguna hingga akhir 2025. Tingkat keaktifan transaksi pada platform ini jauh lebih tinggi dari platform sebelumnya. Layanan BNIdirect untuk segmen korporasi juga mencatat pertumbuhan nilai transaksi di atas 25% YoY.
BNI turut memperkuat komitmen keberlanjutan. Portofolio pembiayaan hijau perusahaan mencapai Rp197 triliun atau sekitar 22% dari total kredit. Perseroan juga menerbitkan Sustainability Bond dan Green Bond masing-masing senilai Rp5 triliun pada 2025.
Direktur Risk Management BNI, David Pirzada menegaskan pentingnya prinsip ESG dalam strategi jangka panjang. Pembiayaan diarahkan pada sektor energi terbarukan hingga transportasi ramah lingkungan.
“Keberlanjutan telah menjadi fondasi strategi bisnis BNI dalam menciptakan nilai jangka panjang bagi seluruh pemangku kepentingan,” tutur David.
