STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – Bursa Efek Indonesia (BEI) tetap pede mengejar target 50 perusahaan baru untuk melantai di bursa pada tahun 2026. Kebijakan kenaikan batas minimum saham publik atau free float menjadi 15% tidak mengubah target tersebut.
Direktur Penilaian Perusahaan Bursa Efek Indonesia (BEI) I Gede Nyoman Yetna mengatakan kebijakan free float 15% tidak mengganggu minat perusahaan untuk melakukan penawaran umum perdana saham atau IPO. Aturan baru akan berlaku setelah proses pembentukan peraturan rampung.
Nyoman menyatakan kondisi perekonomian Indonesia saat ini cukup stabil. Hal ini memicu minat para pengusaha untuk masuk ke pasar modal. Pihaknya melihat pasar akan menjadi lebih dalam dengan kebijakan baru tersebut.
“Kami ini justru memberikan harapan buat para entrepreneur untuk ke capital market, karena pasarnya dalam,” ujar Nyoman di Jakarta, Rabu (4/2/2026).
Terkait target IPO 2026, BEI membidik 50 emiten baru. Itu termasuk enam emiten jumbo atau lighthouse dari kelompok usaha besar. Nyoman menegaskan target tersebut tidak berubah meski ada penyesuaian free float.
“Kami tidak melakukan perubahan, kami optimis dari sisi calon perusahaan tercatat,”
Menurut Nyoman, pasar yang dalam akan memberikan daya tarik lebih bagi investor lokal maupun asing. Saat ini, porsi investasi untuk investor institusi juga akan diperlebar. Hal tersebut diharapkan meningkatkan minat investasi di pasar modal Indonesia.
Terkait kebijakan free float 15%, saat ini prosesnya masih dalam tahap penyusunan peraturan atau rule making rule. BEI sedang meminta masukan dari berbagai pemangku kepentingan, termasuk Asosiasi Emiten Indonesia (AEI). Draft peraturan ini sudah bisa dilihat pada website bursa.
“Draftnya itu dikirim kepada stakeholder, seluruh stakeholder termasuk teman-teman,” ucap Nyoman.
Selama peraturan baru belum terbit, ketentuan yang berlaku masih menggunakan aturan lama. BEI akan terus berdiskusi intensif sebelum aturan tersebut resmi diberlakukan oleh otoritas yang lebih tinggi.
Mengenai daftar tunggu atau pipeline IPO, saat ini sudah ada dua calon emiten jumbo atau lighthouse. Salah satu perusahaan tersebut bergerak di sektor infrastruktur. Namun, Nyoman mengaku belum melihat adanya perusahaan dari grup konglomerasi dalam daftar tersebut.
“Yang lighthouse IPO ada dua. Sektornya infrastruktur,” ungkapnya.
BEI juga terus menjalin komunikasi intensif dengan Danantara terkait rencana aksi korporasi Badan Usaha Milik Negara (BUMN). BEI siap memberikan dukungan penuh bagi anak usaha BUMN atau perusahaan plat merah yang ingin melakukan penawaran umum perdana saham. Pihaknya yakin target 50 emiten baru tahun ini dapat tercapai sesuai rencana awal.
