back to top

Emas dan Perak Bangkit Kembali, Analis Ramal Harga Bisa Tembus USD 6.000

STOCKWATCH.ID (CHICAGO) – Harga emas dunia kembali bangkit pada perdagangan Rabu (4/2/2026) waktu setempat atau Kamis pagi (5/2/2026) WIB. Logam mulia ini melanjutkan pemulihan setelah mengalami koreksi tajam pada sesi sebelumnya. Kenaikan harga dipicu oleh aksi beli saat harga turun dan melemahnya nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS).

Mengutip CNBC International, harga emas spot naik 2,4% ke posisi USD 5.054,6 per ons troi. Di pasar berjangka, kontrak emas menguat sekitar 3,4% menjadi USD 5.100 per ons troi.

Tren penguatan juga merembet ke pasar perak. Harga perak spot melonjak 5,8% ke level USD 90 per ons troi. Sementara itu, perak berjangka melesat 8% hingga menyentuh posisi USD 90,16.

Pemulihan harga ini terjadi setelah emas merosot hampir 10% pada Jumat lalu. Perak bahkan sempat anjlok hingga 30% yang menandai kinerja harian terburuknya sejak tahun 1980.

Ewa Manthey, Ahli Strategi Komoditas di ING, memberikan analisanya terkait situasi ini. Ia menyebut kondisi pasar mulai stabil seiring melemahnya mata uang Negeri Paman Sam.

“Rebound emas hari ini mencerminkan pembaruan aksi beli saat harga turun setelah salah satu koreksi paling tajam pada logam mulia dalam bertahun-tahun, saat pasar yang lebih luas stabil dan dolar AS melemah,” ujar Ewa Manthey.

Indeks Dolar AS terpantau berada di level 97,382 pada Rabu. Angka ini turun tajam dari posisi tertingginya di level 99,39 pada 19 Januari lalu.

Sentimen pasar juga dipengaruhi oleh sikap hati-hati para pemodal. Sergio Ermotti, CEO UBS, mengamati para kliennya mulai mencari perlindungan aset.

“Mereka mencari perlindungan, mereka sedikit menjauh dari sektor teknologi akhir-akhir ini. Jadi menurut saya adil untuk mengatakan kelebihan uang tunai ditempatkan kembali, mungkin di pasar modal. Kami juga melihat di logam mulia dalam beberapa bulan terakhir, tetapi secara garis besar, klien tetap berpegang pada alokasi aset mereka,” kata Sergio Ermotti.

Para analis memprediksi arah pergerakan harga ke depan bergantung pada faktor politik dan suku bunga. Ewa Manthey menilai volatilitas jangka pendek masih akan bertahan.

“Meskipun volatilitas jangka pendek kemungkinan akan bertahan, kami melihat langkah ini sebagai pengaturan ulang yang didorong oleh posisi daripada pembalikan struktural,” tambah Ewa Manthey.

Sejumlah lembaga keuangan besar tetap optimis terhadap prospek harga si kuning. Goldman Sachs menetapkan target harga emas sebesar USD 5.400 pada akhir tahun 2026.

Analis Goldman Sachs, Lina Thomas dan Daan Struyven, menyebut dua faktor utama pendorong harga. Keduanya memprediksi bank sentral akan terus mengumpulkan emas dan investor swasta akan meningkatkan pembelian ETF emas saat The Fed memangkas suku bunga.

BofA Securities memberikan proyeksi yang jauh lebih berani. Mereka menargetkan harga emas bisa menembus level USD 6.000 dalam beberapa bulan mendatang.

Namun, ketidakpastian politik menjelang pemilihan paruh waktu pada November mendatang tetap membayangi. Pasar juga mencermati arah suku bunga di bawah Kevin Warsh, calon Ketua Federal Reserve pilihan Presiden Donald Trump.

BofA Securities menilai pasar bereaksi terhadap gaya kepemimpinan Kevin Warsh di masa depan. “Koreksi tersebut tidak selalu didorong oleh pandangan tentang ke mana arah suku bunga – pada akhirnya, Warsh tampaknya sedang mengupayakan pelonggaran lebih lanjut – tetapi oleh optimisme Fed akan lebih sedikit bergantung pada data, lebih berpandangan ke depan dan pragmatis,” tulis tim riset komoditas global BofA.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Trump Ancam Pemimpin Iran, Harga Minyak Dunia Melonjak Lebih dari 3%

STOCKWATCH.ID (HOUSTON) – Harga minyak dunia melonjak lebih dari...

Harga Emas dan Perak Bangkit dari Keterpurukan, Saham Tambang Global Ikut Menghijau

STOCKWATCH.ID (CHICAGO) – Harga emas dan perak dunia bangkit...

AS Tembak Jatuh Drone Iran, Harga Minyak Dunia Melambung 1% Lebih

STOCKWATCH.ID (HOUSTON) – Harga minyak dunia ditutup menguat pada...

Populer 7 Hari

Berita Terbaru