STOCKWATCH.ID (NEW YORK) – Harga minyak dunia merosot hampir 3% pada akhir perdagangan Kamis (5/2/2026) waktu setempat atau Jumat pagi (6/2/2026) WIB. Penurunan tajam ini dipicu oleh kesepakatan Amerika Serikat (AS) dan Iran untuk melakukan pembicaraan di Oman. Langkah ini meredakan kekhawatiran pasar akan terjadinya konflik militer di Timur Tengah.
Mengutip CNBC International, harga minyak mentah Brent turun 1,91 USD atau 2,75%. Harga minyak acuan global ini ditutup pada level 67,55 USD per barel di London ICE Futures Exchange.
Adapun harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) jatuh 1,85 USD atau 2,84%. Minyak WTI berakhir pada posisi 63,29 USD per barel di New York Mercantile Exchange.
Rencana dialog di Oman dijadwalkan berlangsung pada Jumat waktu setempat. Kabar ini memberikan kelegaan bagi para pelaku pasar terhadap kelancaran pasokan minyak mentah Iran. Selama ini, ketegangan kedua negara selalu memicu volatilitas harga energi.
Phil Flynn, Senior Analyst Price Futures Group, memberikan pandangannya terkait perkembangan terbaru ini. Ia menilai pasar masih menyimpan keraguan di balik respon positif tersebut.
“Masih ada skeptisisme kesepakatan masuk akal dapat dibuat dengan Iran sehingga meskipun pasar saat ini memberikan keuntungan dari keraguan pada pembicaraan, kita masih tidak tahu apa hasil dari pembicaraan tersebut,” ujar Phil Flynn.
Pertemuan di Oman terjadi saat AS sedang membangun kekuatan militer di Timur Tengah. Para pemain regional berupaya keras menghindari konfrontasi militer. Banyak pihak khawatir konflik tersebut bisa meluas menjadi perang yang lebih besar.
Analis dari Aegis Hedging turut menyoroti ketidakpastian yang masih membayangi pasar. Hal ini tercermin dalam catatan mereka kepada para investor.
“Ekspektasi yang berbeda seputar cakupan dan tujuan pembicaraan mempertahankan ketidakpastian, menyuntikkan volatilitas ke dalam harga minyak mentah karena para pedagang menilai kembali kemungkinan eskalasi versus diplomasi,” tulis analis Aegis Hedging.
Selat Hormuz menjadi faktor krusial dalam pergerakan harga ini. Wilayah di antara Oman dan Iran ini dilewati sekitar seperlima dari total konsumsi minyak dunia. Anggota OPEC seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Irak mengekspor sebagian besar minyak mereka melalui selat tersebut.
Selain isu geopolitik, penguatan dolar AS juga ikut menekan harga komoditas. Volatilitas pada logam mulia turut memengaruhi sentimen risiko pasar secara lebih luas. Hal ini membuat investor cenderung berhati-hati.
Dari sisi pasokan, diskon minyak mentah Rusia ke China dilaporkan semakin melebar minggu ini. Para penjual memangkas harga untuk menarik permintaan dari importir minyak terbesar dunia tersebut. Langkah ini diambil untuk menutupi potensi hilangnya penjualan ke India.
Pekan ini, AS dan India menyepakati perjanjian perdagangan baru. Dalam kesepakatan tersebut, India setuju untuk menghentikan pembelian minyak mentah dari Rusia.
Kabar lain datang dari Amerika Selatan. Surplus perdagangan energi Argentina diprediksi melonjak pada 2026. Hal ini didorong oleh peningkatan produksi minyak mentah dari formasi batuan serpih Vaca Muerta.
Tiga analis menyebut kepada Reuters kisaran surplus tersebut bisa mencapai 8,5 miliar USD hingga 10 miliar USD. Angka ini diproyeksikan melampaui rekor yang dicapai pada tahun lalu.
