STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) atau disebut BRI membukukan laba bersih tahun berjalan secara konsolidasi yang dapat diatribusikan kepada pemilik sebesar Rp56,65 triliun pada 2025. Pencapaian ini turun 5,49% dibandingkan laba bersih tahun berjalan secara konsolidasi tahun 2024 sebesar Rp59,94 triliun.
Dalam laporan keuangan BRI yang terbit di Harian Investor Daily, Kamis (26/2/2026), terungkap, laba tahun berjalan sebelum pajak tercatat Rp72,79 triliun pada 2025, turun 5,77% dari Rp77,25 triliun pada tahun 2024.
Sementara itu, pendapatan bunga BRI naik 4,27% dari Rp199,27 triliun pada 2024 menjadi Rp207,78 triliun pada 2025. Setelah dikurangi beban bunga, pendapatan bunga bersih BRI sepanjang 2025 tercatat sebesar Rp150,50 triliun, tumbuh 5,5% dari Rp142,66 triliun pada 2024. Adapun pendapatan bunga bersih serta pendapatan jasa asuransi BRI tercatat sebesar Rp151,80 triliun pada 2025, naik 5,55% dari Rp143,82 triliun pada 2024.
Akan tetapi, pada saat yang sama, BRI membukukan beban operasional lainnya sebesar Rp78,53 triliun, naik 19,69% dari Rp65,61 triliun. Hal ini menyebabkan laba operasional BRI turun 6,33% dari Rp78,22 triliun pada 2024 menjadi Rp73,27 triliun pada 2025. Laba bersih tahun berjalan secara konsolidasi tercatat sebesar Rp57,13 triliun pada 2025, turun 5,27% dari Rp60,31 triliun pada 2024.
Pada fungsi intermediasi, kredit BRI secara konsolidasi tumbuh sebesar 12,31% menjadi Rp1.521,49 triliun pada akhir tahun 2025. Lonjakan penyaluran kredit ini turut mendongkrak total aset BRI di angka Rp2.135,37 triliun pada akhir periode 2025. Seiring dengan itu, rasio kredit bermasalah atau nonperforming loan (NPL) gross meningkat menjadi 3,29% dan NPL net naik menjadi 0,96%.
Sementara itu dana pihak ketiga tercatat sebesar Rp1.466,84 triliun, pada periode akhir tahun 2025. Komposisi CASA mencapai 70,61%. Lantas, likuiditas pun mengetat, dengan rasio loan to deposit ratio (LDR) berada di level 91,96%.
