back to top

Dinilai Tidak Wajar oleh Penilai, Multitrend (BABY) Tetap Ngotot Akuisisi EGI. Apa Alasannya?

STOCKWATCH.ID  (JAKARTA) – PT Multitrend Indo Tbk (BABY) memberikan penjelasan rinci kepada Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (BEI). Penjelasan ini terkait rencana Penambahan Modal dengan Memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu I (PMHMETD I) atau rights issue.

Manajemen membenarkan adanya perubahan jumlah saham baru. Awalnya perseroan merencanakan penerbitan 238,57 juta saham. Angka ini direvisi menjadi 238,59 juta saham.

Perubahan ini terjadi karena penyempurnaan rasio rights issue. Rasio lama adalah 5.516:503. Kini rasionya diperbarui menjadi 625:57 agar lebih mudah diterapkan.

Aksi korporasi ini sangat erat kaitannya dengan rencana akuisisi PT Emway Globalindo (EGI). EGI merupakan perusahaan distributor mainan terkemuka di Indonesia. Perseroan akan mengambil alih saham EGI, sebagian melalui mekanisme inbreng atau penyetoran modal dalam bentuk saham.

Terkait akuisisi ini, Kantor Jasa Penilai Publik (KJPP) rupanya memberikan opini tidak wajar. Penilaian ini muncul karena adanya selisih harga. Nilai 48,15% saham EGI yang disetor (inbreng) dipatok seharga Rp129,99 miliar. Angka ini lebih tinggi dari nilai teoritis yang seharusnya sebesar Rp79,98 miliar.

Selisih harga ini melebihi batas 7,50% sesuai aturan POJK 35/2020. Namun, manajemen BABY memutuskan untuk tetap melanjutkan transaksi. Mereka menilai aksi ini tetap memberikan banyak keuntungan strategis.

“Harga pelaksanaan rencana PMHMETD yang lebih tinggi memberikan potensi tingkat dilusi yang lebih kecil bagi pemegang saham publik,” tulis Manajemen Multitrend Indo dalam dokumen keterbukaan informasi.

Manajemen juga sangat yakin integrasi bisnis dengan EGI akan memperkuat posisi perusahaan di industri ritel nasional. EGI memiliki jaringan distribusi luas dan portofolio merek global.

“Secara keuangan menambah skala yang material bagi Perseroan, baik dari sisi pendapatan maupun EBITDA,” tegas Manajemen BABY.

Risiko penurunan kepemilikan saham publik (free float) juga menjadi sorotan regulator. Jika pemegang saham publik tidak mengeksekusi haknya, free float BABY bisa turun menjadi 7,06%. Angka ini di bawah ketentuan batas minimal BEI.

Mengantisipasi hal tersebut, manajemen bersama pemegang saham pengendali, Blooming Years Pte. Ltd., sudah menyiapkan komitmen. Mereka siap melepas sebagian sahamnya ke publik melalui pasar reguler jika syarat free float tidak terpenuhi pasca transaksi.

Perseroan telah menjadwalkan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada 12 Februari 2026. Targetnya, pernyataan efektif dari OJK bisa terbit pada 25 Maret 2026. Periode perdagangan rights issue diperkirakan berlangsung pada 9-15 April 2026.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Siap Jual Seluruh Saham Master Print ke Perusahaan Singapura, Mitra Pack Gelar RUPSLB Minggu Depan

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – PT Mitra Pack Tbk (PTMP) mengumumkan...

BEI Tetapkan Daftar Efek Liquidity Provider Terbaru, Berlaku Mulai 2 Maret 2026

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – Bursa Efek Indonesia (BEI) resmi...

Free Float Tembus 76,92%, Investor GOTO Bertambah Jadi 382.456 Orang

STOCKWATCH.ID (JAKARTA)  - PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO)...

Populer 7 Hari

Berita Terbaru