Senin, Januari 19, 2026
30.5 C
Jakarta

Aksi Ambil Untung dan Tensi Geopolitik Mereda, Harga Emas Dunia Tergelincir

STOCKWATCH.ID (CHICAGO) – Harga emas dunia berakhir melemah pada penutupan perdagangan Jumat (16/1/2026) waktu setempat atau Sabtu pagi (17/1/2026) WIB. Penurunan harga terjadi setelah investor ramai-ramai melakukan aksi ambil untung atau profit taking. Langkah ini diambil menyusul rekor harga tertinggi yang sempat dicapai emas baru-baru ini.

Mengutip CNBC International, tanda-tanda meredanya ketegangan geopolitik turut memudarkan kilau logam mulia ini. Daya tarik emas sebagai aset pelindung nilai atau safe-haven menjadi berkurang.

Harga emas spot tercatat turun 0,2% di level USD 4.606,54 per ons. Meski terkoreksi, emas tetap mencatatkan kenaikan mingguan sekitar 1,9%. Sebelumnya, komoditas ini sempat menyentuh puncak rekor USD 4.642,72 pada hari Rabu.

Kontrak emas berjangka AS untuk pengiriman Februari juga ditutup melemah. Harganya turun 0,6% menjadi USD 4.595,40.

Edward Meir, analis dari Marex, memberikan pandangannya terkait penurunan ini. Menurutnya, pasar sedang mengalami fase koreksi wajar.

“Ini adalah kemunduran umum dalam kompleks komoditas setelah berminggu-minggu mengalami kenaikan agresif, dengan beberapa aksi ambil untung. Deeskalasi ketegangan Timur Tengah juga telah menghilangkan sebagian premi geopolitik pada emas dan logam lainnya, terutama perak,” kata Meir.

Situasi geopolitik memang tampak lebih tenang. Protes di Iran mulai mereda. Presiden AS Donald Trump memilih pendekatan menunggu dan melihat situasi. Sementara itu, Presiden Rusia Vladimir Putin bergerak untuk memediasi keadaan di Iran guna meredakan ketegangan.

Dari sisi kebijakan moneter, The Federal Reserve diperkirakan akan menahan suku bunga selama paruh pertama tahun ini. Data LSEG menunjukkan pemotongan suku bunga pertama sebesar 25 basis poin diproyeksikan baru terjadi pada bulan Juni.

Aset safe-haven seperti emas biasanya berkinerja baik saat terjadi ketidakpastian geopolitik dan ekonomi. Lingkungan suku bunga rendah juga mendukung penguatan harga emas.

Walaupun terjadi penurunan jangka pendek, Meir masih optimis terhadap prospek harga emas tahun ini.

“Saya masih berpikir kita memiliki peluang untuk mencapai USD 5.000 pada tahun ini, diselingi dengan koreksi besar sementara waktu,” ujar Meir.

Penurunan harga yang lebih tajam dialami oleh perak. Harga perak spot anjlok 3,6% menjadi USD 89,00 per ons. Namun, perak tetap menuju kenaikan mingguan lebih dari 12% setelah sempat menyentuh rekor tertinggi sepanjang masa di USD 93,57 pada sesi sebelumnya.

JPMorgan dalam catatannya memperingatkan risiko pada perak. Logam ini dinilai rentan terhadap koreksi tajam. Faktor pemicunya meliputi pasokan non-AS yang melonggar, arus keluar ETF, permintaan industri yang melunak, serta pembatasan perdagangan yang lebih ketat di China.

Logam mulia lainnya juga berakhir di zona merah. Platinum spot turun 3,8% menjadi USD 2.303,40 per ons. Palladium kehilangan 2,4% ke level USD 1.831 per ons.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Minyak Dunia Oversupply, ICP Desember 2025 Tertekan ke US$61,10 per Barel

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) - Rata-rata minyak mentah Indonesia (Indonesian Crude...

Risiko Pasokan Membayangi, Harga Minyak Dunia Kembali Menanjak

STOCKWATCH.ID (HOUSTON) – Harga minyak dunia bergerak naik pada...

Dolar AS Menguat dan Tensi Iran Mereda, Harga Emas Dunia Tergelincir

STOCKWATCH.ID (CHICAGO) – Harga emas dunia berakhir melemah pada...

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Populer 7 Hari

Berita Terbaru