STOCKWATCH.ID (LONDON) – Bursa saham Eropa ditutup menguat pada akhir perdagangan Rabu (25/2/2026) waktu setempat. Ketegangan pasar global perlahan mereda. Hal ini terjadi usai Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump resmi memberlakukan tarif universal 10%. Angka ini lebih rendah dari ancaman awalnya yang mencapai 15%.
Mengutip CNBC International, indeks Stoxx Europe 600 yang berisi saham-saham utama di Eropa berakhir naik 0,69% ke posisi 633,47. Hampir semua sektor dan bursa utama di kawasan tersebut berada di zona hijau. Indeks CAC 40 Perancis naik 0,47% ke level 8.559,07. FTSE MIB Italia melonjak 1,11% ke posisi 47.170,44.
Indeks FTSE 100 Inggris menguat 1,18% ke level 10.806,41. DAX Jerman tumbuh 0,76% ke posisi 25.175,94. Sementara itu, IBEX 35 Spanyol meningkat 1,49% ke level 18.461,00.
Bursa regional Eropa sebelumnya juga ditutup menguat pada hari Selasa. Investor sedang menilai lanskap perdagangan global baru. Sentimen ini muncul pasca penetapan kebijakan tarif oleh Trump. Pidato State of the Union Trump pada Selasa malam turut memberi arah pasar.
Presiden AS ini yakin tarif bea masuk akan bisa menggantikan peran pajak penghasilan.
“Seiring berjalannya waktu, saya yakin tarif, yang dibayarkan oleh negara-negara asing, akan, seperti di masa lalu, secara substansial menggantikan sistem pajak penghasilan modern, menghilangkan beban keuangan yang besar dari orang-orang yang saya cintai,” ujar Trump.
Hari Rabu menjadi momen sibuk bagi rentetan laporan keuangan emiten. Sederet perusahaan besar merilis kinerjanya. Nama-nama tersebut antara lain Leonardo, Iberdrola, E.ON, Bayer, Ferrovial, Heidelberg Materials, Poste Italiane, Fresenius, Novonesis, hingga Telefonica.
Di tengah rilis kinerja tersebut, saham perusahaan minuman beralkohol asal Inggris, Diageo, anjlok 12,7%. Pembuat minuman keras terbesar di dunia ini memangkas proyeksi penjualan dan laba tahun 2026. Permintaan dari Amerika Utara dan Tiongkok melemah drastis pada paruh pertama tahun fiskal mereka.
Penjualan bersih Diageo merosot 4% menjadi USD 10,5 miliar. Kondisi ini terjadi dalam periode enam bulan hingga bulan Desember. Laba operasional juga susut 1,2% menjadi USD 3,1 miliar.
Manajemen Diageo memberikan penjelasan singkat terkait penurunan kinerja perseroan.
“Tekanan pada pendapatan siap pakai berdampak pada US Spirits,” sebut manajemen.
Diageo kini memproyeksikan pelemahan lebih lanjut pada tahun 2026. Penjualan organik diproyeksikan turun 2% hingga 3%. Laba operasional organik diperkirakan hanya stagnan hingga naik satu digit rendah. Perusahaan terpaksa memangkas dividen menjadi 20 sen per saham.
Kabar kurang sedap juga datang dari Aston Martin. Produsen mobil asal Inggris ini akan memangkas 20% tenaga kerjanya pada tahun 2026. Pendapatan perusahaan anjlok parah akibat dampak tarif di AS dan Tiongkok. Pemangkasan karyawan ini diprediksi bisa menghemat biaya hingga 40 juta poundsterling.
Pendapatan produsen mobil mewah ini turun 21% menjadi 1,26 miliar poundsterling pada 2025. Perusahaan mencatat kerugian operasional sebesar 259,2 juta poundsterling. Total volume penjualan grosir juga merosot 10% menjadi 5.448 unit. Saham Aston Martin akhirnya ditutup turun 2,9% ke level terendah dalam 52 minggu terakhir.
CEO Aston Martin, Adrian Hallmark, membeberkan pemicu utama kemerosotan tersebut.
“Kenaikan tarif di AS dan Tiongkok membebani kinerja perusahaan dan kemampuan untuk melaksanakan rencananya secara efektif,” kata Hallmark.
Di sisi lain, saham HSBC melesat hampir 8%. Saham bank asal Inggris ini sukses mencapai level tertinggi baru dalam 52 minggu. Laporan keuangan dirilis tepat sebelum bel pembukaan bursa berbunyi. Bank ini mencetak laba sebelum pajak tahunan sebesar USD 29,91 miliar. Angka fantastis ini berhasil melampaui perkiraan para analis.
Perhatian pasar juga tertuju pada rilis data ekonomi regional. Jerman merilis data produk domestik bruto dan angka kepercayaan konsumen. Zona euro juga ikut mengumumkan angka inflasi terbarunya.
