STOCKWATCH.ID (HOUSTON) – Harga minyak dunia ditutup menguat pada akhir perdagangan Selasa (3/2/2026) waktu setempat atau Rabu pagi (4/2/2026) WIB. Kenaikan ini dipicu oleh meningkatnya ketegangan militer antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Peristiwa ini memicu kekhawatiran pasar akan terganggunya pasokan energi global.
Mengutip CNBC International, harga minyak mentah Brent naik 1,03 USD atau 1,55%. Harga minyak acuan global ini berakhir pada level 67,33 USD per barel, di London ICE Futures Exchange..
Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS melonjak 1,07 USD atau 1,72%. Minyak WTI ditutup pada posisi 63,21 USD per barel, di New York Mercantile Exchange.
Sentimen pasar memanas setelah militer AS menembak jatuh sebuah drone milik Iran. Drone tersebut dilaporkan mendekati kapal induk Abraham Lincoln secara agresif di Laut Arab.
Ketegangan berlanjut di Selat Hormuz saat sejumlah kapal bersenjata Iran mendekati kapal tanker berbendera AS. Selat Hormuz merupakan jalur krusial bagi ekspor minyak negara-negara OPEC. Arab Saudi, Iran, UEA, Kuwait, dan Irak mengirimkan sebagian besar minyak mentah mereka melalui jalur ini.
Jorge Leon, Senior Vice President dan Head of Geopolitical Analysis Rystad Energy, memberikan pandangannya. Ia menilai posisi Iran memiliki dampak besar bagi stabilitas pasar.
“Signifikansi Iran dalam pasar minyak melampaui profil produksinya sendiri. Bobot geopolitik negara tersebut berakar pada lokasi strategisnya, pengaruhnya terhadap dinamika keamanan regional, dan kapasitasnya untuk mengganggu infrastruktur energi dan rute transit yang kritis,” ujar Jorge Leon.
Uni Emirat Arab telah mendesak Iran dan AS untuk menahan diri. Mereka meminta kedua negara menggunakan pembicaraan nuklir pekan ini untuk menyelesaikan ketegangan. Situasi ini dinilai sangat sensitif karena melibatkan ancaman serangan udara.
Selain isu Timur Tengah, harga minyak mendapat dukungan dari kesepakatan dagang AS-India. Presiden Donald Trump setuju memangkas tarif impor produk India menjadi 18% dari sebelumnya 50%. Sebagai gantinya, India berkomitmen menghentikan pembelian minyak mentah dari Rusia.
India merupakan salah satu ekonomi dan importir minyak terbesar di dunia. Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan permintaan energi global secara keseluruhan. Namun, para analis melihat adanya dampak lain bagi pasar minyak Rusia.
Lembaga penasihat energi Ritterbusch and Associates turut memberikan analisanya. Mereka melihat pengaruh kesepakatan tersebut terhadap harga jual minyak mentah.
“Meskipun kesepakatan tersebut mungkin tampak bullish bagi minyak, dampak jangka pendeknya kemungkinan besar akan berdampak pada diskon lebih lanjut pada barel minyak mentah Rusia yang tidak mungkin memengaruhi keluarnya kargo bayangan ke pasar dunia,” ujar Ritterbusch and Associates.
Kondisi di Ukraina juga ikut menjaga harga minyak tetap tinggi. Presiden Volodymyr Zelenskiy menuduh Rusia mengeksploitasi gencatan senjata energi untuk menimbun amunisi. Serangan Rusia dilaporkan merusak sistem pemanas di beberapa kota, termasuk Kyiv.
Konflik yang berkepanjangan di Ukraina membuat sanksi terhadap ekspor minyak Rusia sulit dicabut. Rusia sendiri merupakan produsen minyak mentah terbesar ketiga di dunia setelah AS dan Arab Saudi. Investor memprediksi pasokan global akan tetap terbatas selama perang masih berlangsung.
