STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – Bursa Efek Indonesia (BEI) melakukan pembersihan besar-besaran di lantai bursa. Sebanyak 18 perusahaan tercatat resmi diputus untuk keluar dari daftar pencatatan saham atau delisting. Langkah tegas ini diambil karena para emiten tersebut tidak lagi memenuhi syarat untuk melantai secara publik.
Keputusan ini tertuang dalam keterbukaan informasi yang dikutip Minggu (12/4/2026). Kepala Divisi Pengaturan & Operasional Perdagangan BEI, Pande Made Kusuma Ari A., memberikan penjelasan terkait jadwal penghapusan tersebut. BEI menetapkan masa transisi sebelum perusahaan benar-benar hengkang.
“Bursa memutuskan Penghapusan Pencatatan Efek (Delisting) kepada Perusahaan Tercatat yang efektif tanggal 10 November 2026,” ujar Pande dalam dokumen resmi tersebut.
Alasan penghapusan ini beragam. Tujuh perusahaan dinyatakan pailit oleh pengadilan. Sementara 11 perusahaan lainnya mengalami suspensi perdagangan lebih dari 50 bulan. Sebagian besar emiten tersebut gagal menunjukkan perbaikan finansial maupun hukum untuk kelangsungan usaha mereka.
Detail Pemegang Saham dan Manajemen Emiten Pailit
Kelompok pertama terdiri dari emiten yang terjerat status pailit. PT Cowell Development Tbk (COWL) dipimpin Presiden Komisaris Joksan Melkisedek Atamou dan Presiden Direktur Irwan Susanto. PT Gama Nusapala memegang 71.12% saham perusahaan ini. Masyarakat yang berkepentingan dapat menghubungi Sekretaris Perusahaan Pikoli Sinaga di nomor 021-3867868.
PT Mitra Pemuda Tbk (MTRA) memiliki Komisaris Utama Kenny Edeli dan Direktur Utama Ade Gunawan. Sahamnya dikuasai PT Mitra Ditosam Indonesia sebesar 77.14%. Publik bisa menghubungi Miftahul Sa’adah di nomor 081545006912.
Nama besar PT Sri Rejeki Isman Tbk (SRIL) atau Sritex turut terjaring. Manajemennya diisi Komisaris Utama Iwan Setiawan dan Direktur Utama Iwan Kurniawan Lukminto. PT Huddleston Indonesia menjadi pemegang saham terbesar yakni 59.03%. Sekretaris Perusahaan Welly Salam dapat dihubungi melalui email welly.salam@sritex.co.id.
Emiten lainnya, PT Sunindo Adipersada Tbk (TOYS), dikelola Presiden Komisaris Tati Oetojo dan Direktur Utama Iwan Tirtha. PT Hoekel Bangun Abadi memiliki 20.66% saham emiten ini. Kontak perusahaan tersedia melalui Gusnaidi Hetminado di nomor 021-8230272.
PT Sejahtera Bintang Abadi Textile Tbk (SBAT) mencatat kepemilikan Tan Heng Lok sebesar 34.482%. Jajaran manajemennya diisi Presiden Komisaris Mamay Jamaludin dan Presiden Direktur Martha Intan Yaputra. Sekretaris Perusahaan Siti Sarah Syawaliyah dapat dihubungi di nomor 021-30056255.
Selanjutnya, PT Tianrong Chemicals Industry Tbk (TDPM) dikendalikan DH Corporation Ltd sebesar 72.51%. Manajemen dipimpin Komisaris Utama Willy Widjaja dan Direktur Utama Anton Hartono. Terakhir di grup pailit, PT Omni Inovasi Indonesia Tbk (TELE) memiliki pemegang saham utama PT Upaya Cipta Sejahtera sebesar 37.32%. Semuel Kurniawan bertindak sebagai Sekretaris Perusahaan.
Emiten Suspensi Panjang: Dari LCGP hingga DUCK
Kelompok kedua berisi emiten dengan masa suspensi sangat panjang. PT Eureka Prima Jakarta Tbk (LCGP) memiliki struktur saham unik. Masyarakat menguasai porsi mayoritas mencapai 87.38%. Manajemennya dipimpin Komisaris Utama Aryanto Sutadi. Publik dapat menghubungi Sekretaris Perusahaan Hervian Tahier di nomor 021-29035117.
PT Sugih Energy Tbk (SUGI) menghadapi situasi sulit. Seluruh jajaran manajemennya telah mengajukan pengunduran diri sejak tahun 2021. Porsi saham masyarakat di emiten ini mencapai 66.23%. Pihak berkepentingan dapat mencoba menghubungi nomor 021-57948877.
PT Marga Abhinaya Abadi Tbk (MABA) mencatat kepemilikan publik sebesar 71.92%. Manajemen diisi Komisaris Utama Ir. H. Joko Margono dan Direktur Utama Adrian Bramantyo. Dwi Yudha Permata Adhi menjabat sebagai Sekretaris Perusahaan dengan nomor 021-2279-0880.
BEI juga mendepak PT Limas Indonesia Makmur Tbk (LMAS). Saham masyarakat di sini mencapai 78.78%. Manajemen melibatkan Komisaris Hironima Emiliani Ratna Permanasari dan Direktur Fajar Baskoro. Fajar juga merangkap sebagai Sekretaris Perusahaan di nomor 021-5155168.
PT Northcliff Citranusa Indonesia Tbk (SKYB) memiliki porsi saham publik 31.51%. Manajemen dipimpin Komisaris Utama Steven Izaac Risakotta. Sekretaris Perusahaan dijabat R Siti Nurhaliza dan bisa dihubungi ke nomor 021-2782078. Sementara PT Envy Technologies Indonesia Tbk (ENVY) mencatat saham masyarakat sebesar 86.675%. Sekretaris Perusahaan Shanaz Nadiya menjadi narahubung utama dan no mor yang bisa dihubungi 021-5761435.
PT Golden Plantation Tbk (GOLL) dikendalikan PT Jom Prawarsa sebesar 76.42%. Manajemennya diisi Komisaris Utama Marsekal Madya TNI (Purn) Dede Rusamsi. Felicia Lukman bertindak sebagai Sekretaris Perusahaan yang dapat dihubungi di nomor 021-57905353. PT Polaris Investama Tbk (PLAS) juga memiliki saham publik yang besar yakni 84.44% dengan kontak Herwin Tri Munardi (021-52897418).
PT Triwira Insanlestari Tbk (TRIL) mencatat PT Arthabuana Karya Mandiri memegang 57.54% saham. Manajemen dipimpin Komisaris Utama Eindrata Tanukusuma dengan Andi Pramono sebagai Sekretaris Perusahaan (021-8282712). PT Nusantara Inti Corpora Tbk (UNIT) memiliki saham publik 70.6% dengan kontak Prianto Paseru (021-29391214).
Terakhir, PT Jaya Bersama Indo Tbk (DUCK) mencatat kepemilikan masyarakat sebesar 86.999%. Manajemen dipimpin Komisaris Utama Itek Bachtiar. Tio Dewi menjabat sebagai Direktur sekaligus Sekretaris Perusahaan di nomor 021-58901634.
BEI menghimbau seluruh perusahaan tersebut melakukan buyback atau pembelian kembali saham masyarakat. Batas keterbukaan informasi rencana buyback adalah 10 Mei 2026. Masa pelaksanaan pembelian kembali saham dijadwalkan pada 11 Mei hingga 9 November 2026. Langkah ini bertujuan melindungi kepentingan pemegang saham publik sebelum status emiten resmi dicabut secara permanen.
