Bos Bank Neo Commerce Ungkap Penopang Laba, Targetkan Pertumbuhan Berlanjut hingga Akhir 2026
STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – PT Bank Neo Commerce Tbk (BNC) mengungkap strategi yang menjadi penopang kenaikan laba perseroan pada semester I 2026. Perseroan mengandalkan pergeseran portofolio kredit ke segmen ritel, menjaga kualitas aset, serta meningkatkan efisiensi biaya untuk mempertahankan pertumbuhan kinerja hingga akhir tahun.
Direktur Utama PT Bank Neo Commerce Tbk, Eri Budiono, mengatakan pertumbuhan laba didorong oleh pelebaran Net Interest Margin (NIM). Salah satu penyebabnya adalah perubahan fokus penyaluran kredit dari segmen korporasi ke ritel.
"Dari sisi revenue, kita fokus ke dari korporasi ke retail consumer. Itu yield-nya besar sekali. Kalau yang di retail, di under segment ini, yield kita jauh lebih besar daripada di sisi korporasi," kata Eri akhir pekan lalu.
Selain meningkatkan pendapatan, BNC juga menjaga biaya melalui pengendalian write-off (WO) dan efisiensi operasional.
"Dari sisi cost, salah satunya adalah WO yang kita jaga, selain daripada operasional tadi yang kita juga melakukan efisiensi. Dari sisi NIM ini tentunya revenue naik, cost turun, PBT-nya bisa naik sekitar 7%," ujarnya.
Eri menjelaskan, penurunan kredit di segmen komersial belum sepenuhnya tergantikan oleh pertumbuhan kredit ritel karena nilai pinjaman setiap nasabah berbeda jauh.
Menurut dia, pinjaman komersial dapat mencapai puluhan hingga ratusan miliar rupiah, sedangkan rata-rata pinjaman ritel sekitar Rp3 juta per nasabah. Karena itu, perseroan lebih memilih mengoptimalkan nasabah yang sudah ada dibanding mengejar pertumbuhan agresif dari nasabah baru.
"Sedangkan saat ini kita tidak jor-joran dengan nasabah baru, kita lebih fokus ke nasabah yang existing dan fokus untuk menjaga kualitas dari portofolio itu," kata Eri.
Ia juga menilai kenaikan suku bunga dan likuiditas perbankan yang masih ketat membuat masyarakat maupun pelaku usaha lebih berhati-hati mengambil keputusan pembiayaan.
Meski demikian, emiten dengan kode saham BBYB itu tetap optimistis dapat mempertahankan pertumbuhan laba hingga akhir tahun.
"Kalau kita bisa jaga momentum ini dan mudah-mudahan kualitas tetap terjaga, mungkin pertumbuhan 7% bisa kita teruskan sampai akhir tahun," ujar Eri.
Berdasarkan laporan kinerja semester I 2026, BNC membukukan laba bersih setelah pajak sebesar Rp294,85 miliar. Nilai tersebut naik 6,81% dibanding semester I 2025 sebesar Rp276,05 miliar. Perseroan juga mencatat total aset Rp17,45 triliun dan dana pihak ketiga (DPK) Rp12,30 triliun.
Menjawab pertanyaan mengenai saldo defisit, Eri mengatakan perseroan akan terus memperbaiki posisi tersebut melalui pertumbuhan laba secara organik.
"Kalau kita bisa terus dengan run rate yang saat ini, tahun 2027 mungkin kita bisa selesaikan itu."
Ia menambahkan, BNC belum dapat membagikan dividen selama saldo defisit masih tercatat di laporan keuangan.
"Kita tidak bisa bayar dividen selama masih ada saldo defisit juga."
Menurut Eri, setelah saldo defisit terselesaikan, perseroan akan membahas kebijakan dividen bersama pemegang saham pengendali dan dewan komisaris.
Terkait rencana memenuhi ketentuan modal inti bank, Eri mengatakan BNC masih menunggu petunjuk teknis dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
"Untuk Bank KBMI 1 menaikkan kapital naik kelas ke Rp6 triliun, tentunya masih belum ada timeline. Kita menunggu Juknis-nya dari OJK," katanya.
Pada sisi pendanaan, Eri mengatakan BNC tidak memangkas deposito secara agresif meski persaingan dana di industri perbankan semakin ketat. Perseroan lebih memilih menjaga keseimbangan struktur dana.
"Kalau deposito, komposisi deposito berkurang dan di CASA-nya naik itu yang ideal bagi kita."
BNC menargetkan rasio current account saving account (CASA) bertahan di kisaran 30% hingga akhir 2026.
Meski sejumlah bank telah menaikkan bunga deposito, BNC memilih menaikkan suku bunga secara bertahap sesuai kondisi likuiditas dan respons nasabah.
"Kita sangat hati-hati," ujar Eri.
Ia juga mengungkapkan perseroan akan segera meluncurkan produk bancassurance setelah memperoleh persetujuan dari OJK.
"Kita bekerja sama dengan Chubb dari Amerika."
Sementara itu, pengembangan layanan Buy Now Pay Later (BNPL) masih berada pada tahap pilot project. Menurut Eri, kontribusi produk tersebut terhadap kinerja keuangan tahun ini diperkirakan masih terbatas karena masih menunggu proses perizinan.
Selain menjaga profitabilitas, BNC terus memperkuat fundamental bisnis. Perseroan meningkatkan rasio kecukupan modal (CAR) menjadi 50,23%, menurunkan rasio kredit bermasalah (NPL) gross menjadi 2,99%, serta memperkuat layanan digital, termasuk pemanfaatan artificial intelligence (AI) untuk mendukung transformasi bisnis.