STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – PT BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS) memproyeksikan ekonomi Indonesia tumbuh di kisaran 5,1% hingga 5,3% pada 2026. Angka ini didorong oleh membaiknya konsumsi domestik, investasi, serta kondisi likuiditas yang kian sehat.
Optimisme masyarakat saat ini tercermin dari Indeks Kepercayaan Konsumen yang melonjak ke level 127. Posisi tersebut merupakan capaian tertinggi dalam setahun terakhir.
Sektor perbankan juga menunjukkan sinyal positif. Uang beredar (M2) tumbuh 9,6% dan penyaluran kredit mulai ekspansif. Kondisi ini menandakan aktivitas ekonomi nasional semakin bergerak cepat.
Proyeksi tersebut disampaikan oleh Chief Economist, Macro Strategist & Debt Research Division Head BRIDS, Helmy Kristanto. Ia berbicara dalam acara Market Outlook 2026 bertajuk “Strategi Kuda Api: Siap Melaju, Menerjang Peluang Baru” di Jakarta, Jumat (13/2/2026).
“Pada tahun ini, dampak kebijakan ekonomi mulai terasa. Daya beli membaik, likuiditas longgar, dan aktivitas usaha meningkat. Biasanya kondisi seperti ini diikuti penguatan pasar modal. Investor yang disiplin memiliki peluang besar untuk menangkap pertumbuhan tersebut,” ujar Helmy.
Helmy menilai stabilitas domestik menjadi faktor pembeda utama bagi Indonesia di tengah ketidakpastian global. Meski ada tekanan eksternal seperti dinamika geopolitik, ekonomi nasional tetap tangguh. Pertumbuhan tetap stabil dengan inflasi yang terkendali.
Kondisi ini menjaga peluang investasi tetap terbuka lebar. BRIDS menyarankan investor menerapkan strategi secara selektif dan disiplin. Kombinasi instrumen saham dan obligasi dinilai sangat relevan untuk tahun 2026.
Pelonggaran suku bunga global berpotensi membuka peluang arus modal masuk ke pasar berkembang (emerging markets). Indonesia menjadi salah satu tujuan utama karena kebijakan moneter domestik yang akomodatif.
Instrumen obligasi atau fixed income tetap menarik sebagai penyeimbang portofolio investasi. Sementara itu, sektor saham berpotensi memberikan pertumbuhan seiring membaiknya fundamental para emiten.
BRIDS berharap investor domestik lebih aktif berpartisipasi di pasar modal. Meningkatnya jumlah transaksi ritel menjadi indikator penting dalam menjaga stabilitas sekaligus pertumbuhan pasar.
