back to top

BSI Bidik Pertumbuhan Double Digit di 2026, Fokus Garap Ekosistem Ritel dan UMKM

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – Bank Indonesia memproyeksi pertumbuhan kredit perbankan nasional berada pada kisaran 8-12% untuk tahun 2026. Meski demikian, perbankan secara umum terpantau masih memperketat penyaluran dana untuk segmen konsumsi dan UMKM. Hal ini terjadi karena risiko kredit pada kedua sektor tersebut dinilai masih cukup tinggi.

Kondisi tersebut berbeda dengan langkah PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk atau BSI. Bank dengan kode saham BRIS ini justru mencatatkan performa kuat pada sektor pro-rakyat. Hingga Desember 2025, pembiayaan BSI mencapai Rp318,84 triliun atau tumbuh 14,49% secara tahunan.

Direktur Utama BSI, Anggoro Eko Cahyo menjelaskan mayoritas pembiayaan perseroan mengalir ke segmen ritel. Nilainya mencapai Rp285,70 triliun atau mencakup 90% dari total pembiayaan. Fokus utama penyaluran dana ini menyasar sektor konsumer, SME, UMKM, mikro, serta pegawai ASN dan BUMN.

“BSI masih punya ruang tumbuh sangat besar,” ujar Anggoro Eko Cahyo dalam keterangan pers daring di Jakarta, Jumat (6/2/2026).

Perseroan memilih fokus pada ekosistem ritel individual sebagai bagian penting ekonomi nasional. Ekosistem ini mencakup karyawan payroll hingga organisasi masyarakat besar seperti Muhammadiyah dan NU. BSI juga aktif masuk ke dalam rantai pasok (supply chain) perusahaan BUMN.

Strategi Dua Mesin Pertumbuhan

Menghadapi tahun 2026, BSI menyiapkan strategi khusus untuk menjaga keberlanjutan kinerja. Wakil Direktur Utama BSI, Bob Tyasika Ananta mengungkapkan perseroan akan mengoptimalkan dua mesin pertumbuhan sekaligus. BSI menjalankan peran sebagai Bank Syariah dan juga sebagai Bullion Bank.

“Ini kita jadikan sebagai engine pertumbuhan perseroan ke depan di 2026,” tutur Bob Tyasika Ananta.

BSI juga fokus menjaga kualitas aset dan melakukan optimalisasi biaya dana atau cost of fund. Saat ini, biaya dana perseroan berada pada level rendah. Kondisi ini memberikan ruang lebih leluasa bagi BSI untuk melakukan penetrasi bisnis secara lebih dalam.

Perseroan menargetkan pertumbuhan pada level double digit untuk seluruh indikator utama. Hal ini meliputi pembiayaan, Dana Pihak Ketiga (DPK), hingga profitabilitas. Optimisme ini didukung oleh proyeksi pertumbuhan ekonomi nasional tahun 2026 sebesar 5,58%.

Sisi teknologi juga terus diperkuat untuk mendukung operasional. BSI meningkatkan kemampuan IT melalui aplikasi super Byond dan Bywise. Infrastruktur fisik berupa 1.049 kantor wilayah, 6.000 ATM, serta 126 ribu Agen BSI turut menjadi ujung tombak dalam meraih pasar.

Dukungan Penuh Program Pemerintah

BSI menunjukkan komitmen kuat dalam menyukseskan program strategis pemerintah. Salah satunya melalui pemanfaatan dana Saldo Anggaran Lebih (SAL) sebesar Rp10 triliun. Hingga Oktober 2025, seluruh dana tersebut telah terserap 100% untuk pembiayaan masyarakat.

Penyaluran dana SAL menyasar sektor UMKM, perumahan griya non-program, hingga bisnis emas. Selain itu, BSI mendukung program Makan Bergizi Gratis (MBG) melalui layanan Virtual Account bagi 1.350 mitra Badan Gizi Nasional. Perseroan juga terlibat dalam mewujudkan 80.000 Koperasi Desa Merah Putih (KDMP).

Pada sektor pembiayaan rakyat, BSI telah menyalurkan KUR sebesar Rp12,2 triliun kepada 90.000 nasabah. Untuk program perumahan FLPP, BSI membiayai 27.000 unit rumah dengan total nilai Rp3,9 triliun. Angka ini tercatat sejak BSI melakukan merger.

Kinerja Keuangan Tetap Solid

Pertumbuhan pembiayaan yang sehat berdampak langsung pada laba perseroan. BSI membukukan laba bersih sebesar Rp7,57 triliun atau naik 8,02% secara tahunan. Kualitas pembiayaan juga terjaga dengan NPF Gross pada level 1,81% dan NPF Nett 0,47%.

Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh impresif sebesar 16,20% menjadi Rp380 triliun. Porsi dana murah (CASA) mendominasi sebesar 61,62% atau senilai Rp234 triliun. Tabungan menjadi mesin utama pertumbuhan dengan kenaikan 15,72% menjadi Rp162,63 triliun.

Direktur Finance and Strategy BSI, Ade Cahyo Nugroho menekankan keberhasilan ini merupakan hasil optimalisasi dual license. BSI memanfaatkan ekosistem syariah seperti haji untuk memperkuat pendanaan. Saat ini, jumlah rekening Tabungan Haji BSI telah menembus angka 6 juta akun.

“Hasilnya signifikan untuk peningkatan DPK terutama dari Tabungan Haji yang tumbuh lebih dari 10%,” jelas Ade Cahyo Nugroho.

Peningkatan DPK ini sukses mendorong total aset BSI naik 11,64% menjadi Rp456 triliun. Dengan modalitas yang kuat, BSI optimistis mampu terus berkontribusi pada akselerasi ekonomi nasional sepanjang tahun ini.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Ekspansi Agresif Bullion Bank BSI, Bidik 2 Juta Nasabah dan Siap Rilis Produk Simpanan Emas

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI)...

BSN Bidik Pengguna Bale Syariah Tumbuh 100%, Transaksi Digital Tembus Rp6,5 Triliun

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – PT Bank Syariah Nasional (BSN) resmi...

Jadi ‘Banknya Para Developer’, BSN Targetkan Penyaluran 73.700 Unit KPR Subsidi di 2026

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – PT Bank Syariah Nasional (BSN) tancap...

Populer 7 Hari

Berita Terbaru