spot_img

AS dan Iran Gelar Perundingan Nuklir, Harga Minyak Dunia Parkir di Level Stabil

STOCKWATCH.ID (HOUSTON) – Harga minyak dunia bergerak stabil pada akhir perdagangan Jumat (6/2/2026) waktu setempat atau Sabtu pagi (7/2/2026) WIB. Pelaku pasar mencermati hasil perundingan antara perwakilan Amerika Serikat (AS) dan Iran mengenai program nuklir Teheran.

Mengutip CNBC International, harga minyak mentah Brent naik 50 sen atau 0,74%. Harga minyak acuan global ini ditutup pada level 68,05 USD per barel di London ICE Futures Exchange.

Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) juga menguat 26 sen atau 0,41%. Minyak WTI berakhir pada posisi 63,55 USD per barel di New York Mercantile Exchange.

Perundingan antara Iran dan Amerika Serikat berlangsung melalui mediasi Oman. Kedua negara berupaya mengatasi perbedaan tajam terkait program nuklir Iran.

Phil Flynn, analis senior di Price Futures Group, memberikan komentarnya. Ia menyoroti ketidakpastian yang masih membayangi pasar terkait risiko keamanan di kawasan tersebut.

“Menjelang minggu depan, Anda tidak tahu apakah akan ada serangan atau tidak,” ujar Phil Flynn.

Televisi pemerintah Iran melaporkan pembicaraan tersebut berakhir pada sore hari. Menteri Luar Negeri Iran menyebut para perunding akan kembali ke ibu kota masing-masing untuk melakukan konsultasi. Proses dialog direncanakan akan terus berlanjut.

Sebelum pembicaraan dimulai, investor sempat merasa cemas karena kurangnya konsensus mengenai agenda pertemuan. Hal ini sempat meningkatkan kekhawatiran terhadap risiko geopolitik global.

Iran ingin tetap fokus pada masalah nuklir dalam agenda tersebut. Di sisi lain, Amerika Serikat ingin membahas masalah rudal balistik. AS juga ingin membicarakan dukungan Iran terhadap kelompok bersenjata di wilayah tersebut.

Eskalasi ketegangan antara kedua negara berisiko mengganggu aliran minyak global. Sekitar seperlima dari total konsumsi dunia melewati Selat Hormuz. Selat ini terletak di antara Oman dan Iran.

Sejumlah negara produsen besar sangat bergantung pada jalur tersebut. Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Irak mengekspor sebagian besar minyak mentah melalui Selat Hormuz. Iran sebagai sesama anggota OPEC juga menggunakan jalur yang sama.

Harga minyak berpotensi turun lebih jauh jika prospek konflik di kawasan tersebut mereda. Namun, saat ini pelaku pasar masih bersikap waspada terhadap perkembangan situasi politik di Timur Tengah.

Kabar lain datang dari Kazakhstan. Ekspor minyak negara tersebut melalui rute utama Rusia diprediksi turun hingga 35% bulan ini. Empat sumber perdagangan menyebut penurunan ini terjadi akibat pemulihan ladang minyak raksasa Tengiz. Ladang tersebut perlahan bangkit dari dampak kebakaran fasilitas listrik pada Januari lalu.

Secara mingguan, harga minyak tertekan oleh aksi jual di pasar yang lebih luas. Analis menyebut adanya ekspektasi berkelanjutan mengenai kelebihan pasokan minyak di pasar global.

Arab Saudi juga telah mengambil langkah pasar yang signifikan. Mereka memangkas harga jual resmi minyak mentah Arab Light ke Asia untuk pengiriman Maret. Harga tersebut kini menyentuh level terendah dalam sekitar lima tahun terakhir. Penurunan harga ini merupakan pemotongan harga selama empat bulan berturut-turut.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Data Inflasi PCE Sesuai Ekspektasi, Harga Emas Dunia Tetap Turun Tiga Hari Beruntun

STOCKWATCH.ID (NEW YORK) – Harga emas dunia kembali melemah...

Gencatan Senjata AS-Iran Menanti Restu Trump, Harga Minyak Dunia Berbalik Arah

STOCKWATCH.ID (HOUSTON) – Harga minyak dunia bergerak bervariasi cenderung...

Inflasi Perang Iran Bayangi Pasar, Harga Emas Dunia Terperosok ke Level Terendah 2 Bulan

STOCKWATCH.ID (CHICAGO) – Harga emas dunia terperosok ke level...
spot_img

Populer 7 Hari

Berita Terbaru