STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN) resmi menandatangani akta jual beli dan pengambilalihan saham PT Bank Victoria Syariah di Jakarta, Kamis (5/6/2025). Penandatanganan ini dilakukan bersama PT Victoria Investama Tbk (VICO) dan PT Bank Victoria International Tbk (BVIC).
Pagi harinya, BTN juga telah menerima salinan surat izin dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Surat tersebut telah ditandatangani OJK pada Rabu (4/6/2025). Dengan keluarnya izin ini, BTN akan segera mengintegrasikan BTN Syariah dan Bank Victoria Syariah menjadi satu bank umum syariah baru sebelum akhir 2025.
Langkah ini merupakan bagian dari proses pemisahan unit usaha syariah atau spin-off BTN Syariah. BTN sebelumnya sudah mendapat restu dari Kementerian BUMN untuk mengakuisisi Bank Victoria Syariah sebagai bagian dari langkah pemisahan tersebut.
Spin-off ini dilakukan sesuai amanat Undang-Undang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (UU P2SK) Nomor 4 Tahun 2023 serta Peraturan OJK Nomor 12 Tahun 2023.
Direktur Utama BTN, Nixon LP Napitupulu, menjelaskan proses spin-off akan dilakukan sekitar 2 hingga 3 bulan ke depan. Setelah itu, BTN Syariah resmi menjadi bank umum syariah, bukan lagi sekadar unit usaha syariah.
“Proses spin-off ini kita rencanakan tadi sekitar 10 November 2025,” ujar Nixon.
Ia juga mengungkapkan bahwa nama baru bank syariah ini sudah disiapkan, bahkan berasal dari Presiden RI. Namun, nama tersebut belum bisa diumumkan saat ini.
Nixon menegaskan spin-off ini bertujuan untuk membuat BTN Syariah berdiri sendiri dan menjadikan Victoria Syariah tumbuh besar. Integrasi ini akan mencakup teknologi informasi, sumber daya manusia, model bisnis, hingga tata kelola.
“Kita ingin menjadikan digital syariah banking, jadi bisnis seperti itu,” kata Nixon. Ia menambahkan bahwa target BTN adalah menjadikan bank syariah baru ini sebagai yang terbesar kedua di Indonesia dalam waktu yang tidak terlalu lama.
Sebelum proses spin-off berjalan, BTN juga akan melakukan penguatan permodalan melalui mekanisme right issue. Selain itu, BTN berencana memperluas portofolio produk yang mencakup kepentingan syariah, treasury, bank insurance, hingga produk emas berbasis digital.
Menurut Nixon, pasar perbankan syariah saat ini sangat luas. Keberadaan BSI telah mengubah persepsi publik terhadap layanan perbankan syariah yang dulunya dianggap kuno. Kini, semakin banyak masyarakat yang meminta akad-akad keuangan berbasis syariah.
“Setelah adanya BSI, suka atau tidak suka, ternyata merubah wajah perbankan syariah hari ini. Kita juga kecipratan,” ujar Nixon. Ia menyebut bahwa branding syariah oleh BSI turut menyosialisasikan industri ini secara tidak langsung.
BTN akan sedikit berbeda dari BSI, dengan fokus utama pada pembiayaan perumahan. Melalui program pemerintah, BTN juga berencana memperluas penetrasi ke daerah-daerah dengan pendekatan syariah.
Sementara itu, Direktur Utama VICO, Aldo Jusuf Tjahaja, menyampaikan optimismenya atas kerja sama strategis ini. Ia meyakini sinergi antara BTN dan Bank Victoria Syariah akan membawa nilai tambah bagi semua pihak.
“Dengan integrasi yang solid dan pengelolaan yang berorientasi pada pekerjaan, kami optimis bahwa Bank Victoria Syariah di bawah naungan BTN akan tumbuh menjadi lembaga keuangan syariah yang lebih kuat dan kompetitif,” ucap Aldo.
Ia juga menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah mendukung proses akuisisi ini sejak awal, mulai dari September tahun lalu hingga penandatanganan hari ini.
“Semoga kolaborasi ini dapat menjadi kemitraan strategis untuk menjadi awal yang baik menuju kemajuan bersama dan mampu memberikan manfaat luas bagi masyarakat,” tutur Aldo.
Akuisisi ini diharapkan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi nasional melalui sektor jasa keuangan syariah. BTN dan Bank Victoria Syariah kini bersiap menyongsong babak baru dalam industri perbankan syariah Indonesia.
