STOCKWATCH.ID (TOKYO) – Bursa saham Asia-Pasifik ditutup bervariasi pada akhir perdagangan Kamis (28/8/2025) waktu setempat. Investor mencermati keputusan suku bunga Bank of Korea dan dampak tarif baru Amerika Serikat terhadap India.
Mengutip CNBC International, Bank sentral Korea Selatan kembali menahan suku bunga di 2,5% untuk pertemuan kedua berturut-turut. Langkah ini sesuai perkiraan ekonom, meski perdagangan global masih penuh ketidakpastian.
Indeks Kospi Korea Selatan naik 0,29% menjadi 3.196,32, sementara Kosdaq melemah 0,41% ke 798,43. Won Korea menguat 0,36% di 1.387,58 per US$.
Di Jepang, indeks Nikkei 225 melonjak 0,73% menjadi 42.828,79, sedangkan Topix naik 0,65% ke 3.089,78. Di Australia, indeks S&P/ASX 200 menguat tipis 0,22% ke 8.980.
Perusahaan tambang Lynas Rare Earths berencana menghimpun dana sekitar A$750 juta atau US$488 juta lewat penjualan saham dengan harga diskon. Sahamnya dihentikan sementara dari perdagangan.
Sementara itu, saham maskapai Qantas justru naik ke rekor tertinggi setelah kinerja keuangan melampaui perkiraan. Laba sebelum pajak melonjak 15% menjadi A$2,39 miliar atau US$1,6 miliar. Pendapatan perusahaan tumbuh 8,6% menjadi A$23,82 miliar hingga 30 Juni.
Di Hong Kong, Hang Seng turun 0,79%. Namun indeks CSI 300 di China daratan menguat 1,77% ke 4.463,78, sementara Shanghai Composite naik 1,14% ke 3.843,59.
Pasar India kembali dibuka setelah libur Rabu dan langsung tertekan. Indeks Nifty 50 turun 0,49% ke 24.500,90 setelah AS memberlakukan tarif tambahan 25% untuk produk ekspor India. Total bea masuk atas barang India kini mencapai 50%.
“Risiko terhadap pertumbuhan ekonomi India kini menjadi lebih nyata,” tulis Barclays dalam catatan. Bank tersebut menyebut komoditas utama ekspor India ke AS, seperti mesin listrik serta perhiasan dan batu mulia, menjadi sektor paling terdampak. Barclays memperkirakan dialog dagang antara delegasi India dan AS tetap berlanjut.
