STOCKWATCH.ID (LONDON) – Bursa saham Eropa kompak menguat pada perdagangan Rabu (12/11/2025) waktu setempat. Kenaikan ini melanjutkan tren positif sejak awal pekan, seiring meningkatnya optimisme investor terhadap berakhirnya penutupan pemerintahan Amerika Serikat (shutdown).
Mengutip CNBC International, indeks Stoxx Europe 600 yang berisi saham-saham utama di Eropa ditutup naik 0,71% menjadi 584,23. Hampir semua sektor dan bursa utama bergerak di zona hijau. Di Inggris, indeks FTSE 100 menguat 0,12% ke 9.911,42. Indeks DAX Jerman naik 1,22% ke 24.381,46.
Bursa Prancis juga menguat. Indeks CAC 40 naik 1,04% ke 8.241,24. Indeks FTSE MIB Italia bertambah 0,80% ke 44.792,64, sementara indeks IBEX 35 Spanyol melonjak 1,39% ke 16.615,80.
Penguatan di pasar Eropa terjadi setelah Senat AS menyetujui rancangan undang-undang anggaran untuk mengakhiri kebuntuan politik yang memicu shutdown terpanjang dalam sejarah negara itu. RUU tersebut kini menunggu persetujuan akhir dari Dewan Perwakilan AS.
Sektor energi menjadi penopang utama kenaikan indeks. Saham perusahaan utilitas asal Inggris, SSE Plc, melonjak 16,8% setelah mengumumkan rencana penerbitan saham baru senilai £2 miliar atau sekitar US$2,6 miliar. Dana ini akan digunakan untuk mendanai investasi senilai £33 miliar dalam lima tahun ke depan guna memperkuat jaringan listrik nasional.
Dalam laporan keuangannya, SSE mencatat laba operasi disesuaikan sebesar £655 juta pada paruh pertama tahun ini, sedikit di bawah perkiraan analis sebesar £684 juta.
Dari Jerman, saham RWE AG juga naik 9,1% setelah melaporkan laba sebelum pajak sebesar 2,71 miliar euro. Perusahaan listrik terbesar di Jerman ini mencatat EBITDA disesuaikan 3,48 miliar euro dalam sembilan bulan pertama 2025, lebih tinggi dari perkiraan analis sebesar 3,14 miliar euro.
Saham Infineon Technologies AG turut menguat 6,9%. Produsen chip asal Jerman itu membukukan pendapatan tahunan 14,6 miliar euro, turun 2% dibanding tahun sebelumnya namun masih sesuai ekspektasi pasar.
Di pasar obligasi, imbal hasil (yield) surat utang pemerintah Inggris atau gilt sedikit naik. Yield obligasi tenor 10 tahun bertambah 1 basis poin menjadi 4,401%. Kenaikan ini terjadi di tengah rumor politik terkait posisi Perdana Menteri Keir Starmer yang disebut tengah goyah.
Pemerintah Inggris kini menghadapi biaya pinjaman tertinggi di antara negara anggota G7. Yield gilt tenor 30 tahun masih bertahan di atas level kritis 5%.
Pergerakan ini turut menekan nilai tukar poundsterling. Pound melemah 0,1% terhadap dolar AS ke US$1,313 dan turun 0,2% terhadap euro.
