STOCKWATCH.ID (TOKYO) – Bursa saham di kawasan Asia-Pasifik bergerak hati-hati pada perdagangan Selasa (17/2/2026). Transaksi berjalan sepi karena banyak pasar regional libur.
Mengutip CNBC International, pasar saham China daratan, Hong Kong, Singapura, Taiwan, dan Korea Selatan tutup. Penutupan ini dalam rangka libur Tahun Baru Imlek. Bursa AS juga ditutup pada hari Senin untuk memperingati Hari Presiden.
Indeks Nikkei 225 Jepang ditutup turun 0,5%. Indeks Topix yang lebih luas juga meluncur 0,2% ke level 3.779,29.
Di Australia, indeks S&P/ASX 200 diperdagangkan menguat hampir 0,5%.
Imbal hasil obligasi AS tenor 10 tahun turun 1 basis poin menjadi 4,044% pada hari Selasa. Angka ini menyentuh level terendah sejak awal Desember. Imbal hasil obligasi lima tahun Jepang juga turun 2 basis poin menjadi 1,65%, posisi terendahnya sejak 2 Februari.
Pada awal jam perdagangan Asia, kontrak berjangka Nasdaq turun 0,1%. Sebaliknya, kontrak berjangka S&P 500 naik 0,2%. Indeks dolar AS stabil di angka 97,07 setelah sempat naik tipis 0,2% semalam.
Pelemahan ekonomi Jepang menjadi sorotan utama pasar. Laporan Produk Domestik Bruto (PDB) rilis jauh lebih lemah dari perkiraan.
Jepang melaporkan ekonominya tumbuh 0,2% secara tahunan pada kuartal keempat. Angka ini jauh di bawah proyeksi analis sebesar 1,6%. Pengeluaran pemerintah menjadi beban utama aktivitas ekonomi. Mata uang Yen Jepang merespons dengan menguat 0,15% menjadi 153,28 per dolar AS.
Angka ekonomi yang lemah ini menyoroti tantangan bagi Perdana Menteri Sanae Takaichi. Kondisi ini dinilai akan mendukung dorongan Takaichi untuk memberikan stimulus fiskal yang lebih agresif.
Bank of Japan (BOJ) dijadwalkan bertemu untuk membahas suku bunga pada bulan Maret. Pedagang memprediksi peluang kenaikan suku bunga sangat kecil. Jajak pendapat Reuters memperkirakan bank sentral akan menunggu hingga Juli sebelum kembali mengetatkan kebijakan.
Analis dari National Australia Bank (NAB) memberikan catatan terkait situasi di Jepang.
“Pasar kemungkinan mengasumsikan data PDB yang lebih lunak di kuartal keempat akan mendorong rencana PM Takaichi untuk menawarkan dukungan fiskal tambahan dan mengurangi pajak penjualan makanan,” tulis analis NAB.
Mereka juga menambahkan pandangannya tentang arah kebijakan suku bunga.
“Penetapan harga untuk kenaikan suku bunga BoJ sedikit lebih rendah pasca data PDB, dengan hanya 4 basis poin dihargai untuk pertemuan Maret dan 16 basis poin dihargai untuk April,” sebut analis NAB.
Dari Australia, bank sentral setempat (RBA) merilis pernyataan terbaru pada hari Selasa. RBA menyimpulkan inflasi akan tetap tinggi jika tidak menaikkan suku bunga bulan ini. Mereka belum yakin soal perlunya pengetatan kebijakan lebih lanjut.
