Selasa, Januari 20, 2026
30 C
Jakarta

Aprindo Gandeng Pasar Jaya Gelar Epic Sale 2025, Target Transaksi Tembus Rp56 Triliun

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) — Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) kembali menggelar pesta belanja besar-besaran. Program ini bertajuk EPIC (Every Purchase is Cheap) SALE 2025. Inisiatif ini bertujuan memperkuat konsumsi domestik di akhir tahun. Gelaran ini berlangsung mulai 1 Desember hingga 4 Januari 2025. Aprindo menargetkan transaksi fantastis mencapai Rp 56 triliun.

Peluncuran program dilakukan di Pasar Mayestik, Jakarta, pada Selasa (2/12/2025). Lokasi ini dipilih sebagai simbol kolaborasi baru. Aprindo kini tidak hanya menggandeng ritel modern. Mereka juga merangkul pasar tradisional dalam ekosistem ini. Sinergi ini melibatkan Pasar Jaya, Asosiasi Pengelola Pasar Indonesia (Asparindo), hingga Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia (APPSI).

Ketua Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo), Solihin, menjelaskan alasan pemilihan lokasi tersebut.

“Antara Aprindo dengan pihak-pihak yang terkait dalam hal ini, dan kita buat acara di Pasar Jaya yang merupakan juga salah satu anggota Aprindo. Dan memang selama ini kita selalu melakukan kegiatan selalu di tempat-tempat yang katakanlah pusat perbelanjaan, di toko modern, dan sebagainya. Saya setuju hari ini kita adakan Epic Sale di Pasar Jaya, bertempat di Pasar Mayestik yang punya sejarah yang luar biasa,” ujar Solihin dalam konferensi pers di Pasar Mayestik, Jakarta, pada Selasa (2/12/2025).

Program ini didukung penuh oleh pemerintah. Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian dan Kementerian Perdagangan turut serta. Tujuannya adalah menggerakkan roda ekonomi secara merata. Aprindo ingin menghapus stigma asosiasi yang eksklusif untuk ritel modern. Solihin menegaskan inklusivitas keanggotaan Aprindo.

“Program ini, Epic Sale tahun ini bukan hanya program diskon, tetapi pengungkit traffic dan volume belanja nasional. Dan untuk pertama kalinya Epic Sale menjadi kolaborasi pasar yang menyatukan ritel modern dan ritel tradisional. Karena selama ini konotasi dan dikotomi Aprindo sebagai asosiasi pengusaha ritel identik dengan seolah ritel modern. Saya pastikan bahwa Aprindo mempunyai anggota bukan hanya para peritel modern,” tegas Solihin.

Momentum Natal dan Tahun Baru (Nataru) menjadi kunci utama. Periode ini selalu mencatatkan kenaikan omzet signifikan. Pola belanja masyarakat meningkat drastis dibanding bulan biasa. Rata-rata kontribusi penjualan bulanan normal hanya sekitar 8,5%. Angka ini melonjak tajam saat musim liburan.

“Kalau kita mengambil setahun 100% dengan 12 bulan, rata-rata cuman hanya 8,5%. Tapi di peak season biasanya bisa melebihi 15 sampai 23%, khususnya di produk-produk tertentu,” jelas Solihin.

Perilaku konsumen saat ini juga menjadi sorotan. Loyalitas terhadap merek mulai pudar. Harga murah menjadi pertimbangan utama dalam membeli barang. Perubahan ini membuka peluang bagi produk UMKM untuk bersaing. Kualitas produk tetap harus dijaga meski harga terjangkau.

“Dulu loyalitas terhadap satu produk dengan merek tertentu itu luar biasa. Sekarang enggak, yang penting murah dan penggunaannya kurang lebih sama. Merek tidak menjadi satu hal dalam mempertimbangkan satu beli, sekarang yang murah. Nah karena itu, para peritel saat ini didorong Pak, untuk menyediakan produk yang murah tetapi berkualitas,” ungkap Solihin.

Target transaksi tahun ini melonjak drastis. Tahun lalu realisasi hanya mencapai Rp 14,9 triliun. Kini angkanya dipatok menjadi Rp 56 triliun. Optimisme ini muncul karena pelibatan pasar rakyat yang masif. Ada ratusan perusahaan dan belasan ribu pasar rakyat yang terlibat.

“Iya, saya targetkan Rp 56 triliun. Tahun lalu EPIC itu cuman Rp 14,9 truliun tercapainya ya, dan itu hanya dua minggu. Ya, tetapi tidak melibatkan seperti sekarang. Sehingga kalau ditanya EPIC yang lalu cuman sekian, kok sekarang besar sekalian? Kenapa? Begitu yakin karena tadi sudah sampaikan oleh direktur dari Pasar Jaya, bahwa pelibatan Pasar Jaya ini sangat besar kontribusinya,” kata Solihin.

EPIC SALE 2025 berskala nasional. Namun, wilayah Jabodetabek masih menjadi penyumbang terbesar. Produk kebutuhan sehari-hari atau FMCG menjadi primadona. Masyarakat diprediksi akan memburu barang kebutuhan pokok selama periode diskon ini.

“Jatim juga kontribusi terbesar. Tapi masih di bawah Jabodetabek. Saya nyebut kalau Jabodetabek bisa 50%,” tambah Solihin saat ditanya mengenai sebaran kontribusi daerah.

Ketersediaan stok barang menjadi perhatian utama. Aprindo memastikan pasokan aman menjelang Nataru. Para distributor telah menyiapkan stok jauh-jauh hari. Koordinasi dengan Kementerian Perdagangan terus dilakukan untuk menjaga kelancaran distribusi.

“Dan kita pastikan Pak Kemendag, selama distribusinya perjalanannya kita lancar, kita enggak ada kekhawatiran. Karena para distributor pada saat ini cukup mempunyai stok yang relatif sudah kita siapkan jauh-jauh hari, baik begitu juga para rekan-rekan Aprindo sudah menyiapkan tempat yang luas untuk menyimpan barang-barang kebutuhan,” tutup Solihin.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Tuntaskan Program HARCILNAS 2025, Adira Finance Lunasi Cicilan Ratusan Pelanggan

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – PT Adira Dinamika Multi Finance Tbk...

Ingin Sehat Tanpa Biaya Besar? Lakukan 6 Kebiasaan Ini Mulai Hari Ini

STOCKWATCH.ID (LONDON) - Resolusi tahun baru seringkali kandas di...

Resmi Tukangi Timnas Indonesia, John Herdman Bidik Tiket Piala Dunia 2030

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – PSSI resmi memperkenalkan John Herdman sebagai...

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Populer 7 Hari

Berita Terbaru