STOCKWTCH.ID (JAKARTA) – Struktur kepemilikan saham PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA) berubah signifikan. Per akhir Januari 2026, mayoritas saham perusahaan konstruksi pelat merah tersebut dikuasai oleh PT Danantara Asset Management (Persero).
Mengutip data laporan bulanan kepemilikan saham yang dirilis Biro Administrasi Efek PT Datindo Entrycom, Sabtu (7/3/2026) menunjukkan Danantara menggenggam 35,92 miliar saham WIKA atau setara 90,108% dari total saham yang ditempatkan dan disetor penuh.
Jumlah saham yang dimiliki Danantara tersebut berasal dari total saham beredar WIKA sebanyak 39,87 miliar saham. Sisanya dimiliki oleh pemegang saham lain dengan porsi 9,892% atau sekitar 3,94 miliar saham.
Perubahan komposisi tersebut menunjukkan dominasi kuat pemegang saham utama dalam struktur kepemilikan WIKA. Kondisi ini juga berdampak pada porsi saham yang beredar di publik atau free float.
Free Float di Bawah 10%
Laporan kepemilikan saham menunjukkan jumlah saham free float WIKA mencapai 3,57 miliar saham atau sekitar 8,962% dari total saham tercatat di Bursa Efek Indonesia.
Free float tersebut merupakan saham yang dimiliki investor dengan kepemilikan di bawah 5% serta tidak dimiliki oleh pengendali, afiliasi pengendali, maupun anggota direksi dan dewan komisaris.
Dari jumlah tersebut, sebagian besar saham publik berada dalam bentuk scripless atau tanpa warkat sebanyak 3,57 miliar saham. Sementara saham publik dalam bentuk warkat hanya sekitar 2,96 juta saham atau 0,007%.
Selain itu, perseroan juga memiliki saham treasury sebanyak 1,1 juta saham atau sekitar 0,003% dari total saham beredar.
Secara keseluruhan, total saham WIKA yang tercatat di Bursa Efek Indonesia per akhir Januari 2026 mencapai 39,87 miliar saham.
Komposisi Investor
Berdasarkan klasifikasi investor, kepemilikan saham WIKA masih didominasi investor domestik.
Kelompok perseroan terbatas dalam negeri menguasai sekitar 36,16 miliar saham atau 90,687% dari total saham. Sementara investor perorangan Indonesia memegang sekitar 2,11 miliar saham atau 5,30%.
Investor institusi domestik lainnya juga tercatat memiliki saham WIKA, di antaranya dana pensiun sekitar 605,38 juta saham atau 1,518%, perusahaan asuransi sekitar 55,73 juta saham atau 0,139%, serta lembaga pemerintah sekitar 362,91 juta saham atau 0,910%.
Sementara itu, kepemilikan investor asing relatif kecil. Investor perorangan asing tercatat memegang sekitar 13,49 juta saham atau 0,033%, sedangkan badan usaha asing menguasai sekitar 546,60 juta saham atau 1,370%.
Secara keseluruhan, investor asing hanya memiliki sekitar 560,10 juta saham atau 1,404% dari total saham WIKA.
Kepemilikan Direksi dan Komisaris
Direksi dan komisaris WIKA juga tercatat memiliki sebagian kecil saham perusahaan. Namun jumlahnya relatif kecil dibanding total saham beredar.
Direktur Utama WIKA Agung Budi Waskito tercatat memiliki 1,43 juta saham atau sekitar 0,0036%. Direktur Operasi Hananto Aji memiliki 1,26 juta saham atau sekitar 0,0031%.
Direktur Keuangan Sumadi tercatat memiliki 850 ribu saham, sementara Direktur Manajemen SDM dan Transformasi Hadjar Seti Adji memiliki sekitar 510 ribu saham.
Adapun seluruh anggota dewan komisaris tidak tercatat memiliki saham perseroan.
Secara keseluruhan, kepemilikan saham oleh jajaran direksi dan komisaris WIKA mencapai sekitar 4,06 juta saham atau hanya 0,010% dari total saham beredar.
Pemegang Saham Pengendali
Selain Danantara sebagai pemegang saham mayoritas, terdapat juga kepemilikan saham oleh lembaga pemerintah.
Data laporan bulanan menunjukkan Badan Pengaturan Badan Usaha Milik Negara Republik Indonesia memegang sekitar 362,91 juta saham atau 0,910% dari total saham WIKA.
Dengan komposisi tersebut, struktur kepemilikan saham WIKA saat ini sangat terkonsentrasi pada satu pemegang saham utama. Sementara porsi kepemilikan publik relatif kecil dan berada di bawah 10%.
Kondisi ini mencerminkan kuatnya kontrol pemegang saham mayoritas terhadap arah kebijakan dan strategi bisnis perusahaan konstruksi milik negara tersebut.
