STOCKWATCH.ID (NEW YORK) – Bursa saham Amerika Serikat atau Wall Street ditutup melemah pada akhir perdagangan Jumat sore (13/3/2026) waktu setempat atau Sabtu pagi (14/3/2026) WIB. Indeks S&P 500 jatuh ke level terendah baru tahun ini seiring kecemasan investor terhadap perkembangan perang Iran.
Mengutip CNBC International, indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) di Bursa Efek New York merosot 119,38 poin atau 0,26% ke level 46.558,47. Indeks S&P 500 (SPX) juga turun 0,61% dan berakhir di posisi 6.632,19. Sementara itu, indeks komposit Nasdaq (IXIC) yang didominasi saham teknologi, melemah 0,93% menjadi 22.105,36.
Penurunan ini membuat posisi S&P 500 berada 5% di bawah rekor tertinggi terakhirnya. Secara mingguan, S&P 500 mencatat kerugian 1,6% sekaligus membukukan tren penurunan tiga minggu berturut-turut untuk pertama kalinya dalam setahun. Indeks Dow Jones anjlok sekitar 2%, sedangkan Nasdaq turun 1,3% sepanjang pekan ini.
Koreksi pasar terjadi di tengah lonjakan harga minyak mentah dunia. Minyak West Texas Intermediate (WTI) menetap naik 3,11% pada posisi USD 98,71 per barel. Minyak Brent juga menguat 2,67% ke level USD 103,14 per barel.
Sentimen negatif dipicu oleh pernyataan Pemimpin Tertinggi baru Iran, Mojtaba Khamenei. Ia memerintahkan Selat Hormuz tetap ditutup sebagai alat untuk menekan musuh. Jalur pelayaran krusial ini terhenti total sejak Amerika Serikat dan Israel meluncurkan serangan ke Iran pada akhir Februari lalu.
Menteri Pertahanan, Pete Hegseth, mencoba meredam kekhawatiran terkait penutupan jalur laut tersebut. Hal ini ia sampaikan dalam pengarahan pers di Pentagon.
“Kami telah menanganinya, dan tidak perlu khawatir tentang itu,” ujar Hegseth.
Meski demikian, pelaku pasar di Wall Street tetap khawatir kenaikan harga minyak akan memicu stagflasi. Kondisi ini merupakan kombinasi dari inflasi tinggi dan pertumbuhan ekonomi yang lambat. Situasi tersebut membuat investor menurunkan ekspektasi terhadap pemangkasan suku bunga Federal Reserve.
Data perdagangan kontrak berjangka suku bunga saat ini menunjukkan pasar tidak lagi mengantisipasi adanya penurunan suku bunga pada September mendatang. David Aspell, Chief Investment Officer Global Macro di Mount Lucas Management, memberikan analisanya terkait kondisi ini.
“Laba cukup bagus, tetapi sentimen sulit,” kata Aspell. “Bagian minyak dari sentimen dan valuasi ekuitas menanamkan jalur suku bunga yang kini sedang dipertanyakan.”
