Kamis, Januari 15, 2026
27.7 C
Jakarta

Bursa Saham Asia Bergerak Variatif di Tengah Ancaman Tarif Baru dari Trump

STOCKWATCH.ID (TOKYO) – Bursa saham Asia-Pasifik menunjukkan pergerakan yang beragam pada penutupan perdagangan Kamis sore (27/2/2025) waktu setempat. Hal ini terjadi setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengancam akan memberlakukan tarif 25% pada impor dari Uni Eropa.

Mengutip CNBC International, di Australia, indeks S&P/ASX 200 naik 0,33% dan ditutup pada level 8.268,2. Sementara itu, di Jepang, Nikkei 225 menguat 0,3% ke posisi 38.256,17, dan Topix bertambah 0,73% menjadi 2.736,25. Sebaliknya, indeks Kospi Korea Selatan turun 0,73% ke 2.621,75, dan Kosdaq melemah tipis 0,07% ke 770,85.

Saham perusahaan ritel Jepang, Seven & i Holdings, anjlok lebih dari 10%. Penurunan ini terjadi setelah rencana akuisisi oleh keluarga pendirinya gagal mendapatkan pendanaan. Sebelumnya, surat kabar Yomiuri melaporkan bahwa Seven & i telah membatalkan rencana pembelian manajemen yang bernilai lebih dari 8 triliun yen (US$53,69 miliar).

Di Hong Kong, indeks Hang Seng melemah 0,61%, sementara indeks CSI 300 di China daratan naik 0,21% dan ditutup pada 3.968,12.

Ancaman tarif baru dari Presiden Trump menambah ketidakpastian di pasar global. Pada Rabu, Trump mengumumkan rencana untuk mengenakan tarif 25% pada impor dari Uni Eropa, khususnya sektor otomotif. Dia menyatakan bahwa Uni Eropa dibentuk untuk “memperdaya Amerika Serikat”.

Menanggapi hal ini, Presiden Confindustria, Emanuele Orsini, menyebut ancaman tarif tersebut sebagai serangan terhadap industri dan tenaga kerja Eropa. Dia menegaskan bahwa kebijakan perdagangan Trump bertujuan “mendeindustrialisasi benua Eropa” dan menyerukan respons tegas dari Uni Eropa.

Goldman Sachs dalam catatannya pada Rabu menyatakan bahwa risiko tarif yang mendalam masih belum sepenuhnya dihargai oleh pasar. Kepala strategi global FX, suku bunga, dan EM di Goldman Sachs, Kamakshya Trivedi, mengatakan bahwa masih ada kemungkinan penurunan lebih lanjut pada ekuitas AS dan penguatan dolar jika Trump “benar-benar menerapkan” tarif yang lebih luas dan besar.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Wall Street Turun Lagi, Saham Teknologi dan Perbankan Jadi Pemicunya

STOCKWATCH.ID (NEW YORK) – Bursa saham Amerika Serikat atau...

Bursa Saham Eropa Cetak Rekor, Isu Greenland dan Sektor Tambang Jadi Sorotan

STOCKWATCH.ID (LONDON) – Bursa saham Eropa kompak menguat pada...

Bursa Saham Jepang Cetak Sejarah, Indeks Nikkei Tembus 54.000 Gara-Gara Isu Pemilu

STOCKWATCH.ID (TOKYO) – Pasar saham Jepang baru saja mencetak...

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Populer 7 Hari

Berita Terbaru