Stockwatch.id Versi penuh
Financial

Ditopang Pendapatan Bunga dan FBI, Laba BNI (BBNI) Capai Rp10,76 Triliun pada Paruh Pertama 2026

Oleh Daiz La Ode 05 Aug 2026 22:22 3 menit baca

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) - PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) berhasil membukukan laba bersih konsolidasi sebesar Rp10,76 triliun pada semester I 2026. Perolehan ini tumbuh 6,6% jika dibandingkan Rp10,09 triliun pada periode yang sama tahun 2024.

Berdasarkan laporan kinerja per Juni 2026 yang dirilis Rabu, 5 Agustus 2026, pertumbuhan laba didorong oleh peningkatan pendapatan operasional. Pendapatan bunga bersih (Net Interest Income/NII) Perseroan tercatat mencapai Rp22,29 triliun pada semester I 2026, naik 14,2% dari Rp19,52 triliun pada tahun sebelumnya.

Selain pendapatan bunga, kinerja positif ini juga ditopang oleh pertumbuhan pendapatan non-bunga atau Fee-Based Income (FBI). BNI mencatatkan FBI sebesar Rp9,03 triliun pada semester I 2026, atau meningkat 14,2% secara tahunan (Year-on-Year/YoY). Akumulasi ini mendorong total pendapatan operasional tumbuh 13,6% menjadi Rp34,04 triliun.

"Laba inti semester I 2026 mencapai rekor tertinggi, didorong oleh pertumbuhan pendapatan bunga dan pendapatan berbasis biaya," tulis manajemen BNI dalam dokumen presentasi kinerjanya dikutip Rabu (5/8/2026).

Laba operasional sebelum pencadangan (Pre-Provision Operating Profit/PPOP) juga menyentuh angka tertinggi sepanjang sejarah perusahaan di level Rp18,50 triliun, atau tumbuh 14,5% YoY. Pertumbuhan ini terjadi di tengah kenaikan beban operasional (OPEX) sebesar 12,6% menjadi Rp15,54 triliun yang dipicu oleh investasi digitalisasi dan remunerasi variabel.

Dari sisi neraca, BNI memperkuat posisi keuangannya dengan total aset mencapai Rp1.461 triliun per Juni 2026. Angka ini meningkat 21,6% dibandingkan periode yang sama tahun 2025 yang sebesar Rp1.201,7 triliun.

Penyaluran kredit (gross) BNI tumbuh agresif sebesar 24,4% YoY menjadi Rp968,5 triliun pada semester I 2026. Segmen korporasi menjadi kontributor utama dengan pertumbuhan 24,5% mencapai Rp542,7 triliun, disusul segmen menengah yang melonjak 62% menjadi Rp170 triliun.

Penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) juga tercatat solid sebesar Rp1.100,2 triliun, tumbuh 22,3% YoY. Rasio dana murah atau CASA (Current Account Saving Account) berada di level 65,4% dari total DPK.

Untuk menjaga kekuatan neraca, BNI mencatatkan total ekuitas sebesar Rp168,23 triliun, tumbuh tipis 1,8% dari Rp165,19 triliun pada Juni 2025. Adapun total liabilitas perusahaan tercatat sebesar Rp1.292,8 triliun.

Meskipun ekspansi kredit cukup kencang, BNI tetap menjaga kualitas aset. Rasio kredit bermasalah (Non-Performing Loan/NPL) Gross berada di level stabil 1,9%. Sementara itu, Loan at Risk (LaR) membaik signifikan dari 11,0% menjadi 8,1% pada Juni 2026.

Rasio keuangan penting lainnya menunjukkan kinerja yang sehat. Pengembalian atas ekuitas (Return on Average Equity/ROAE) naik menjadi 13,4% dari sebelumnya 12,8%. Namun, margin bunga bersih (Net Interest Margin/NIM) mengalami sedikit tekanan ke level 3,6% dibanding 1H25 yang sebesar 3,8%.

Rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio/CAR) berada di level 18,1%, masih jauh di atas ketentuan regulator. Sedangkan rasio pinjaman terhadap simpanan (Loan to Deposit Ratio/LDR) berada pada posisi 87,7%.

BNI mematok target pertumbuhan kredit di rentang 8,0% - 10,0% sepanjang tahun ini. Adapun biaya kredit (Cost of Credit) akan dijaga pada  kisaran 1,0% - 1,2%.


Topik terkait
saham BBNI laba bersih BNI kinerja BNI semester I 2026 laporan keuangan bank kredit BNI