Dolar AS Melemah, Yen dan Euro Kompak Menguat Usai Pemilu Jepang

STOCKWATCH.ID (WASHINGTON) – Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) melemah terhadap sejumlah mata uang utama pada perdagangan Senin (21/7/2025) waktu setempat atau Selasa pagi (22/7/2025) WIB. Pelemahan ini terjadi di tengah gejolak politik di Jepang dan kekhawatiran pasar menjelang tenggat kesepakatan tarif antara Amerika Serikat dan Jepang pada 1 Agustus.

Mengutip CNBC International, indeks dolar AS menguat secara luas setelah koalisi partai yang dipimpin Perdana Menteri Shigeru Ishiba kehilangan mayoritas di majelis tinggi parlemen. Hasil ini sudah diperkirakan sebelumnya oleh pasar, namun tetap membuat investor bersikap lebih hati-hati.

Dalam perdagangan pagi waktu New York, yen menguat 0,9% terhadap dolar ke level 147,52. Mata uang Jepang itu juga menguat 0,5% terhadap euro ke 172,05 dan menguat 0,4% terhadap poundsterling ke 198,60.

Pasar Jepang tutup karena libur Hari Laut Nasional. Hal ini menjadikan yen sebagai barometer utama sentimen pasar terhadap situasi politik di Jepang.

“Karena pasar Tokyo libur hari ini, kita harus lihat besok bagaimana reaksi pasar,” ujar Marc Chandler, Kepala Strategi Pasar di Bannockburn Forex, New York.

Ia menambahkan, “Saya tahu ada yang bilang kekalahan partai LDP bisa membawa perubahan kebijakan, tapi saya tidak melihat itu. Menurut saya, pasar hanya salah posisi terhadap dolar/yen karena mengira hasil pemilu bakal negatif untuk yen.”

Dalam pemilu tersebut, Partai Demokrat Liberal (LDP) pimpinan Ishiba hanya mendapatkan 47 kursi dari 50 yang dibutuhkan untuk mempertahankan mayoritas. Sebanyak setengah dari total 248 kursi majelis tinggi diperebutkan dalam pemilu kali ini.

Meskipun mendapat tekanan dari internal partainya sendiri, Ishiba tetap menyatakan akan bertahan sebagai perdana menteri. Oposisi bahkan mulai membicarakan kemungkinan mengajukan mosi tidak percaya.

Kondisi politik Jepang yang makin tidak stabil juga datang di saat yang tidak ideal, yakni ketika negara itu tengah berusaha mencapai kesepakatan tarif dengan Presiden AS Donald Trump sebelum tenggat 1 Agustus.

“Situasi politik Jepang kini makin rumit, apalagi investor juga mengalihkan fokus pada perseteruan tarif dengan Amerika Serikat,” kata Roberto Mialich, Ahli Strategi FX Global di UniCredit.

David Chao, Ahli Strategi Pasar Global untuk Asia Pasifik di Invesco, menilai ketidakpastian politik bisa menghambat Bank of Japan untuk mengetatkan kebijakan moneter dalam waktu dekat. “Mereka mungkin enggan menambah tekanan di tengah situasi yang sudah tidak stabil,” katanya.

Di pasar mata uang lainnya, euro naik 0,4% ke US$1,1681. Sementara poundsterling menguat 0,6% ke US$1,3488. Indeks dolar, yang mengukur kekuatan dolar terhadap enam mata uang utama lainnya, turun 0,5% ke 97,969.

Investor juga menanti pertemuan Bank Sentral Eropa (ECB) pekan ini. ECB diperkirakan masih menahan suku bunga setelah beberapa kali melakukan pemangkasan sebelumnya.

“Kami ragu Presiden ECB Christine Lagarde akan membuat kejutan sebelum libur musim panas bank sentral. Meski begitu, kekuatan euro belakangan ini dan arah tarif masih menjadi perhatian,” ujar Chris Turner, Kepala Pasar Global di ING.

Di Amerika Serikat, Presiden Trump sempat hampir memecat Ketua The Fed Jerome Powell pekan lalu, namun akhirnya mengurungkan niat tersebut karena khawatir dengan dampak gejolak pasar. The Fed sendiri diperkirakan masih akan menahan suku bunga pada pertemuan bulan Juli ini.

Sementara itu, pelaku pasar telah sepenuhnya memperkirakan pemangkasan suku bunga The Fed akan terjadi pada pertemuan Oktober. Namun, potensi pemangkasan kedua belum sepenuhnya diperhitungkan.

Dari sisi mata uang lainnya, dolar Selandia Baru naik tipis 0,2% ke US$0,5975. Sebelumnya sempat melemah usai rilis data inflasi kuartal kedua yang lebih rendah dari perkiraan ekonom. Hal ini mendorong ekspektasi pemangkasan suku bunga pada bulan depan akibat lemahnya ekonomi secara keseluruhan.

- Advertisement -

Artikel Terkait

BBCA Cs Beri Pinjaman USD150 Juta ke EMAS, Dana Digunakan untuk Ini

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS)...

BRI Salurkan KPR Subsidi Senilai Rp17,13 Triliun Hingga Akhir Maret 2026

STOCKWATCH.ID (JAKARTA)- PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) terus...

Pecah Rekor, Chandra Asri Raup Laba Bersih USD 205 Juta pada Kuartal I 2026

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) - PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA)...

Populer 7 Hari

Berita Terbaru