STOCKWATCH.ID (WASHINGTON) – Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) turun pada akhir perdagangan Senin (8/9/2025) waktu setempat atau Selasa pagi (9/9/2025) WIB. Ini melanjutkan penurunan setelah laporan pekerjaan AS yang lemah pada Jumat lalu meningkatkan ekspektasi pemangkasan suku bunga Federal Reserve.
Mengutip CNBC International, yen Jepang ikut melemah setelah Perdana Menteri Jepang Shigeru Ishiba mengumumkan pengunduran diri akhir pekan lalu. Pengumuman ini memicu ketidakpastian kebijakan yang panjang bagi ekonomi terbesar keempat di dunia.
Marc Chandler, Chief Market Strategist di Bannockburn Forex, menilai, “Fokus utama di pasar valuta asing tetap pada dolar dan perkembangan di AS. Orang bisa membicarakan politik Jepang, tetapi penggerak dolar/yen sebenarnya adalah suku bunga AS.”
Pada perdagangan pagi, dolar hanya menguat 0,2% terhadap yen di 147,695, setelah sempat naik 0,8% pada hari yang sama. Yen juga melemah ke level terendah lebih dari setahun terhadap euro, yang naik 0,3% menjadi 173,25 yen.
Data non-farm payrolls menunjukkan pertumbuhan pekerjaan di AS turun tajam pada Agustus. Tingkat pengangguran naik ke 4,3%, mendekati level tertinggi empat tahun terakhir. Kondisi ini membuat pasar memprediksi kemungkinan 90% pemangkasan suku bunga 0,25% oleh Fed bulan ini, dengan peluang 10% pemangkasan 0,50%, menurut estimasi LSEG.
Investor kini menyoroti kemungkinan Ishiba digantikan pemimpin yang mendukung kebijakan fiskal dan moneter lebih longgar, seperti veteran Partai Demokrat Liberal Sanae Takaichi. Hirofumi Suzuki, Chief Currency Strategist di SMBC, menuturkan, “Probabilitas kenaikan suku bunga tambahan di September tidak tinggi. Namun, mulai Oktober, hasil akan tergantung pada perdana menteri baru, jadi situasinya tetap dinamis.”
Pasar saham Jepang menguat, sementara obligasi pemerintah stabil meski imbal hasil obligasi jangka panjang berada dekat rekor tertinggi. Data ekonomi terbaru menunjukkan Jepang tumbuh lebih cepat dari perkiraan pada kuartal kedua, namun yen nyaris tidak bereaksi.
Di pasar global lain, sterling menguat 0,2% terhadap dolar menjadi US$1,3534, setelah naik lebih dari 0,5% pada Jumat. Euro juga naik 0,2% menjadi US$1,1741, setelah sempat menyentuh level tertinggi lebih dari sebulan pada Jumat.
Indeks dolar AS turun tipis 0,3% ke 97,6, setelah anjlok lebih dari 0,5% pada Jumat. Terhadap franc Swiss, dolar turun ke level terendah sejak 24 Juli di 0,7938. Lee Hardman, Strategist MUFG, menilai, “Laporan pekerjaan telah menekan indeks dolar di bawah level support 98,000, meski dampak negatif pada dolar lebih moderat dibanding penurunan imbal hasil jangka pendek AS.”
Selain itu, Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyerukan pengawasan kembali terhadap Fed, termasuk kewenangannya menetapkan suku bunga. Presiden Donald Trump mempertimbangkan tiga kandidat pengganti Ketua Fed Jerome Powell, yang dikritiknya sepanjang tahun karena belum menurunkan suku bunga sesuai keinginannya.
