STOCKWATCH.ID (CHICAGO) – Harga emas kembali melonjak hingga mencetak rekor tertinggi pada penutupan perdagangan Rabu (15/1/2026) waktu setempat atau Kamis pagi (15/1/2026) WIB. Langkah ini segera diikuti oleh harga perak yang juga terbang tinggi. Ketidakpastian politik dan ekonomi dunia membuat para investor cemas. Mereka memilih mengalihkan dana ke aset yang lebih aman.
Mengutip CNBC International, harga emas spot ditutup menguat 1,1% menjadi 4.635,39 dolar AS per ons. Sebelumnya, logam mulia ini sempat menyentuh angka tertinggi sepanjang sejarah. Kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Februari juga naik 1% ke level 4.644,20 dolar AS.
COO Allegiance Gold, Alex Ebkarian melihat adanya tren penguatan besar pada logam mulia. “Semua jalan mengarah ke emas dan perak,” ujar Alex Ebkarian. Ia mencatat permintaan datang dari berbagai jenis pembeli. Menurutnya, pasar saat ini sedang berada dalam fase kenaikan harga yang sangat kuat.
Emas memang tidak memberikan bunga bagi pemiliknya. Namun, aset ini biasanya sangat laku saat suku bunga rendah. Harapan pasar akan penurunan suku bunga oleh bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed) memberi tenaga tambahan bagi kenaikan harga.
Masalah politik dunia menjadi pendorong utama minat investor. Iran memberikan peringatan keras kepada negara-negara tetangga yang menampung pasukan Amerika Serikat (AS). Mereka mengancam akan menyerang pangkalan militer AS. Hal ini dilakukan jika Washington ikut campur dalam aksi protes di Iran.
Di belahan dunia lain, ketegangan soal wilayah Greenland kembali memanas. Menteri dari Denmark dan Greenland dijadwalkan bertemu dengan Wakil Presiden AS, JD Vance. Pertemuan ini terjadi setelah Presiden Donald Trump kembali menuntut agar AS memegang kendali atas Greenland.
Kondisi ekonomi AS turut memengaruhi pergerakan pasar. Data terbaru menunjukkan penjualan ritel AS bulan November naik melebihi perkiraan. Indeks Harga Produsen (PPI) juga melampaui estimasi tahunan. Meski begitu, para pelaku pasar tetap memprediksi akan ada dua kali penurunan suku bunga pada tahun ini.
Isu kemandirian bank sentral AS masih menjadi perhatian serius. Para pimpinan bank sentral dunia menyatakan dukungan mereka kepada Ketua The Fed, Jerome Powell. Dukungan ini muncul karena pemerintahan Trump mengancam Powell dengan tuntutan pidana.
Perak mencatat lonjakan yang bahkan lebih tajam daripada emas. Harga perak spot melesat 6,4% ke posisi 92,53 dolar AS per ons. Angka tersebut merupakan level tertinggi yang pernah dicapai oleh perak.
Alex Ebkarian memprediksi harga perak masih punya ruang untuk terus mendaki. “Kami mengantisipasi beberapa volatilitas, tetapi saya melihat perak pada 100 USD tidak berbeda dengan pada 90 USD. Perkiraan jangka pendek kami adalah antara 100 USD hingga 144 USD,” tutur Alex Ebkarian. Ia menambahkan tren kenaikan logam mulia kemungkinan besar terus berlanjut hingga kuartal pertama tahun ini.
