STOCKWATCH.ID (HONG KONG) – Bursa saham di kawasan Asia-Pasifik mayoritas melemah pada penutupan perdagangan Jumat (20/3/2026). Investor terus mencermati perkembangan perang di Timur Tengah. Konflik ini memicu kekhawatiran besar terhadap gangguan pasokan energi global.
Mengutip CNBC International, Iran menyerang kilang gas terbesar dunia di Qatar pada Kamis lalu. Aksi ini merusak infrastruktur energi untuk beberapa tahun ke depan. Serangan tersebut merupakan balasan atas gempuran Israel ke lapangan gas South Pars milik Iran.
CEO QatarEnergy, Saad al-Kaabi menyebut serangan Iran telah “melenyapkan 17% kapasitas ekspor LNG negara tersebut selama tiga hingga lima tahun.”
Aksi saling serang infrastruktur minyak dan gas ini membuat harga energi melambung. Harga gas alam Amerika Serikat (AS) naik 1,5% menjadi 3.112 USD per juta unit termal Inggris. Harga bensin RBOB Nymex juga naik hampir 1% ke level 3,13 USD atau mencapai titik tertinggi dalam empat tahun.
Harga minyak mentah dunia justru bergerak variatif. Minyak Brent turun 2% ke level 106,45 USD per barel. Minyak West Texas Intermediate (WTI) AS juga merosot 1,56% menjadi 94,64 USD per barel. Arab Saudi memprediksi harga minyak bisa menembus 180 USD per barel jika gangguan pasokan berlanjut hingga akhir April.
Sentimen perang ini turut memukul harga logam mulia. Emas dan perak sempat anjlok masing-masing sekitar 5% dan 10% sebelum akhirnya sedikit pulih. Veteran investor Ed Yardeni menilai penurunan harga emas terjadi karena adanya aksi jual panik oleh pelaku pasar.
Upaya menenangkan pasar mulai dilakukan para pemimpin dunia. Presiden AS Donald Trump menyatakan tidak akan mengerahkan pasukan darat ke lokasi konflik. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu juga berjanji tidak akan mengulangi serangan ke fasilitas energi Iran.
Bursa saham China daratan, indeks CSI 300, ditutup turun 0,35% di level 4.567. Indeks Hang Seng Hong Kong juga melemah lebih dari 1% pada jam terakhir perdagangan. Penurunan ini terjadi meskipun bank sentral China mempertahankan suku bunga pinjaman acuan di level 3% dan 3,5%.
Saham Xiaomi Corp menjadi pemberat utama di bursa Hong Kong dengan koreksi lebih dari 7%. Padahal, raksasa teknologi ini baru saja meluncurkan model mobil listrik terbaru. Xiaomi juga berencana menginvestasikan 8,7 miliar USD untuk pengembangan kecerdasan buatan (AI).
Di Australia, indeks S&P/ASX 200 berakhir turun 0,82% ke posisi 8.428,4. Sebaliknya, bursa Korea Selatan menjadi pengecualian dengan penguatan tipis. Indeks Kospi naik 0,31% ke level 5.781,2 dan indeks Kosdaq melonjak 1,58%. Sementara itu, pasar saham Jepang tutup karena hari libur nasional.
