STOCKWATCH.ID (CHICAGO) – Harga emas dunia menguat lebih dari 1% pada akhir perdagangan Kamis (9/4/2026) waktu setempat atau Jumat pagi (10/4/2026) WIB. Kenaikan ini didorong oleh pelemahan nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS). Investor juga terus memantau perkembangan gencatan senjata antara Washington dan Teheran.
Mengutip CNBC International, harga emas spot naik 1,7% ke posisi USD 4.796,50 per ons troi. Logam mulia ini sempat menyentuh level tertinggi dalam hampir tiga minggu pada sesi sebelumnya. Penguatan ini terjadi di tengah penantian pasar terhadap rilis data inflasi AS.
Di pasar berjangka AS, kontrak emas untuk pengiriman mendatang menetap 1% lebih tinggi pada level USD 4.823,00. Penurunan indeks dolar AS membuat emas menjadi lebih murah bagi pembeli yang menggunakan mata uang lain. Hal ini memicu peningkatan permintaan terhadap logam kuning tersebut.
Bob Haberkorn, Senior Market Strategist di RJO Futures, memberikan analisanya terkait pergerakan harga emas. Ia menilai pelemahan dolar AS membantu emas kembali bangkit di pasar global. Meski demikian, para pelaku pasar masih bersikap hati-hati.
“Dolar yang lebih lemah telah membantu emas mendapatkan kembali pijakannya, tetapi ada kehati-hatian di pasar karena peserta mencoba menafsirkan apa arti gencatan senjata tersebut,” ujar Haberkorn.
Haberkorn menambahkan kabar mengenai gencatan senjata awalnya memberikan sentimen positif yang sangat kuat bagi harga emas. Namun, kenaikan harga mulai tertahan seiring munculnya ketidakpastian dalam kesepakatan damai tersebut.
“Headline gencatan senjata sangat bullish untuk emas, tetapi harga telah mundur dari level tertinggi baru-baru ini seiring munculnya keretakan,” tambah Haberkorn.
Tanda-tanda keretakan muncul setelah Israel mengebom lebih banyak sasaran di Lebanon. Teheran menuntut agar Lebanon dimasukkan ke dalam kesepakatan gencatan senjata. Selain itu, belum ada tanda-tanda Iran akan mencabut blokade di Selat Hormuz.
Kegagalan negosiasi dan kembali memanasnya perang berisiko mendorong kenaikan biaya energi serta inflasi. Kondisi ini bisa memaksa Federal Reserve (The Fed) mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama. Suku bunga tinggi biasanya mengurangi daya tarik emas karena aset ini tidak memberikan imbal hasil.
Harga emas spot tercatat sudah merosot hampir 10% sejak awal pecahnya perang AS-Israel melawan Iran pada 28 Februari lalu. Saat ini, fokus investor tertuju pada rilis data Indeks Harga Konsumen (CPI) Maret yang akan diumumkan pada Jumat ini.
Data inflasi lainnya, yaitu indeks pengeluaran konsumsi pribadi (PCE), naik 2,8% dalam 12 bulan hingga Februari. Angka tersebut sesuai dengan perkiraan pasar. Inflasi AS kemungkinan akan meningkat lebih lanjut pada laporan bulan Maret nanti.
Kenaikan harga emas juga diikuti oleh logam mulia lainnya di pasar spot. Harga perak melonjak 2,3% menjadi USD 75,84 per ons troi. Perak terus mendapatkan momentum penguatan mengikuti pergerakan emas.
Logam lainnya seperti platinum juga ikut menghijau dengan kenaikan 2,6% ke posisi USD 2.082,78 per ons troi. Sementara itu, paladium naik tipis 0,3% dan berakhir pada level USD 1.559,10 per ons troi.
