STOCKWATCH.ID (HOUSTON) – Harga minyak dunia ditutup menguat tajam pada perdagangan Kamis (8/1/2026) waktu setempat atau Jumat pagi (9/1/2026) WIB. Kenaikan ini mengakhiri tren penurunan yang terjadi selama dua hari berturut-turut. Para investor kini fokus memantau perkembangan di Venezuela serta potensi gangguan pasokan dari Rusia, Irak, dan Iran.
Mengutip CNBC International, harga minyak mentah Brent untuk kontrak pengiriman Maret naik USD 2,03 atau 3,39%. Harga ditutup pada level USD 61,99 per barel, di London ICE Futures Exchange.
Adapun harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) naik USD 1,77 atau 3,16%. Harga menetap di posisi USD 57,76 per barel, di New York Mercantile Exchange.
Ketegangan di Venezuela menjadi pemicu utama kenaikan harga. Amerika Serikat (AS) baru saja menyita dua kapal tanker minyak yang terkait dengan Venezuela di Samudra Atlantik. Salah satu kapal tersebut mengibarkan bendera Rusia.
Langkah ini merupakan bagian dari upaya agresif Presiden Donald Trump untuk mendikte aliran minyak di Amerika. Ia berusaha menekan pemerintah sosialis Venezuela agar menjadi sekutu AS. Setelah penangkapan Presiden Nicolas Maduro akhir pekan lalu, AS terus memperketat blokade terhadap kapal-kapal yang terkena sanksi.
Analis di perusahaan penasihat energi Ritterbusch and Associates memberikan tanggapan atas situasi ini. “Kompleks ini pulih kembali, dengan patokan minyak mentah kembali ke level penutupan Jumat lalu sebelum penggulingan Maduro oleh AS,” tulis mereka.
Meski terjadi peristiwa besar, dampaknya terhadap harga minyak diperkirakan tidak terjadi seketika. “Fakta bahwa perkembangan besar ini berdampak kecil pada kompleks energi tidak mengejutkan karena kedatangan minyak mentah Venezuela dalam jumlah yang berarti ke wilayah Pantai Teluk (AS) bisa memakan waktu bertahun-tahun lagi,” tambah Ritterbusch.
Trump menyatakan AS kemungkinan akan mengawasi Venezuela dan mengendalikan pendapatan minyaknya selama bertahun-tahun. Di sisi lain, Senat AS mulai mengajukan resolusi untuk membatasi tindakan militer lebih lanjut di negara tersebut.
Menteri Energi AS Chris Wright berharap perusahaan minyak seperti Chevron dapat segera mengembangkan aktivitas di sana. ConocoPhillips dan Exxon Mobil juga disebut berminat memainkan peran konstruktif. Pemerintah AS bahkan mengundang bos perusahaan perdagangan Vitol dan Trafigura ke Gedung Putih untuk membahas pemasaran minyak Venezuela.
Sentimen pasar juga datang dari India. Reliance Industries menyatakan minat untuk membeli minyak Venezuela jika diizinkan. Perlu diketahui, Venezuela memproduksi sekitar 1% dari total pasokan minyak dunia.
Kekhawatiran pasokan juga muncul dari Rusia. Sebuah kapal tanker minyak tujuan Rusia dilaporkan terkena serangan drone di Laut Hitam. Kapal tersebut terpaksa meminta bantuan penjaga pantai Turki.
Situasi di Ukraina pun makin memanas. Rusia memperingatkan pasukan negara Barat yang dikirim ke Ukraina akan menjadi target tempur yang sah. Hal ini merespons rencana Inggris dan Prancis untuk mengerahkan pasukan multinasional jika terjadi gencatan senjata.
Sentimen tambahan datang dari Irak. Pemerintah Irak menyetujui rencana nasionalisasi operasional ladang minyak West Qurna 2. Langkah ini diambil untuk menghindari gangguan akibat sanksi AS terhadap pemegang saham asal Rusia, Lukoil.
Terakhir, pasar mencermati kondisi di Iran. Protes besar-besaran terkait reformasi subsidi tengah melanda negara tersebut. Presiden Iran Masoud Pezeshkian telah memperingatkan para pemasok domestik agar tidak menimbun barang.
Pavel Molchanov, Analis Strategi Investasi di Raymond James, ikut memberikan pandangan. “Iran memiliki sejarah panjang protes, dan tidak ada tanda-tanda rezim tersebut berada di ambang keruntuhan. Tetapi bergantung pada bagaimana situasi berkembang, ekspor minyak Iran – yang setara dengan 2% pasokan global – bisa terancam,” ujarnya.
