STOCKWATCH.ID (HOUSTON) – Harga minyak dunia turun sekitar 2% pada penutupan perdagangan Rabu (25/3/2026) waktu setempat atau Kamis pagi (26/3/2026) WIB. Penurunan dipicu perkembangan negosiasi antara Amerika Serikat (AS) dan Iran serta sinyal kelonggaran akses di Selat Hormuz.
Mengutip CNBC International, harga minyak mentah Brent turun 2,2% menjadi USD 102,22 per barel di London ICE Futures Exchange. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) juga melemah 2,2% ke level USD 90,32 per barel di New York Mercantile Exchange.
Penurunan harga terjadi setelah Presiden AS, Donald Trump, mengungkapkan proses negosiasi dengan Teheran sedang berlangsung. Ia menilai Iran menunjukkan keinginan untuk mencapai kesepakatan damai, meski sebelumnya membantah adanya pembicaraan langsung.
Trump menyampaikan telah menarik ancaman serangan terhadap infrastruktur energi Iran. Keputusan ini diambil seiring berlangsungnya proses diplomasi.
“Mereka berbicara kepada kami, dan mereka berbicara masuk akal,” ujar Trump dari Oval Office.
Laporan The New York Times menyebutkan AS telah mengirimkan proposal 15 poin kepada Iran melalui perantara Pakistan. Proposal tersebut bertujuan mengakhiri konflik. Namun, belum ada kepastian dukungan dari Israel.
Dari sisi lain, misi Iran untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memberi sinyal positif. Kapal non-permusuhan diizinkan melintas di Selat Hormuz dengan koordinasi otoritas Iran.
Selat Hormuz merupakan jalur strategis perdagangan energi global. Sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair dunia melewati jalur ini. Kawasan tersebut juga menjadi rute penting perdagangan pupuk internasional.
Ketegangan di Timur Tengah sebelumnya mengganggu ekspor minyak sejak akhir Februari 2026. Gangguan muncul setelah serangan AS dan Israel terhadap Iran. Kondisi ini memicu kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan energi global.
Co-head Global Commodities Research Goldman Sachs, Daan Struyven, menilai gangguan pasokan saat ini termasuk yang terbesar dalam beberapa dekade jika dilihat dari pangsa global.
Goldman Sachs mencatat pergerakan harga saat ini dipengaruhi persepsi risiko geopolitik. Investor melakukan lindung nilai terhadap potensi gangguan berkepanjangan, di tengah tingkat persediaan global yang rendah.
Bank investasi tersebut memperkirakan aliran minyak melalui Selat Hormuz akan kembali normal pada April 2026. Proses normalisasi diprediksi berlangsung selama empat minggu.
Namun, juru bicara militer Iran memberi sinyal berbeda. Ia menilai pasar minyak masih akan bergejolak hingga stabilitas kawasan sepenuhnya terjaga.
Media pemerintah Iran juga menegaskan tidak akan menerima upaya gencatan senjata dari AS. Ketidakpastian ini membuat pelaku pasar terus mencermati perkembangan diplomasi yang terjadi.
akan normal sampai stabilitas regional diamankan di bawah kendali militer mereka.
Media pemerintah Iran juga menegaskan sikap tegas negara tersebut. Mereka menyatakan tidak akan menerima upaya gencatan senjata dari pihak AS. Ketidakpastian ini membuat para pedagang terus memantau setiap sinyal diplomasi yang muncul.
