STOCKWATCH.ID (HOUSTON) – Harga minyak dunia mengalami penurunan pada penutupan perdagangan Selasa (6/1/2026) waktu setempat atau Rabu pagi (7/1/2026) WIB. Pasar tengah menimbang ekspektasi melimpahnya pasokan global tahun ini. Di sisi lain, ketidakpastian produksi minyak mentah Venezuela muncul setelah penangkapan Presiden Nicolas Maduro oleh Amerika Serikat (AS).
Mengutip CNBC International, minyak mentah Brent merosot 1,72% atau turun 1,06 USD. Harga minyak acuan global ini berakhir pada posisi 60,70 USD per barel, di London ICE Futures Exchange.
Adapun harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) turun 2,04% atau berkurang 1,19 USD ke level 57,13 USD per barel, di New York Mercantile Exchange.
Tamas Varga, analis PVM Oil, memberikan pandangannya mengenai situasi ini. Ia menilai masih terlalu dini melihat efek penangkapan Maduro terhadap keseimbangan pasar minyak.
“Masih terlalu dini untuk mengevaluasi dampak penangkapan Nicolas Maduro terhadap keseimbangan minyak. Apa yang tampak jelas, bagaimanapun juga, pasokan minyak akan mencukupi pada tahun 2026, dengan atau tanpa peningkatan produksi dari anggota OPEC tersebut,” kata Tamas Varga.
Para pelaku pasar sebelumnya memprediksi harga minyak akan tertekan sepanjang 2026. Pertumbuhan pasokan diprediksi tidak sebanding dengan lemahnya permintaan global.
Penangkapan pemimpin Venezuela pada Sabtu lalu turut menambah tekanan harga. Peristiwa ini meningkatkan peluang berakhirnya embargo AS terhadap minyak Venezuela. Jika embargo dicabut, produksi minyak negara tersebut berpotensi melonjak lebih tinggi.
Janiv Shah, analis dari Rystad, memberikan estimasi mengenai tambahan pasokan minyak dari Venezuela. Ia memperkirakan kenaikan produksi akan memakan waktu dan membutuhkan modal besar.
“Kami memperkirakan hanya 300.000 barel per hari pasokan tambahan dalam dua hingga tiga tahun ke depan karena pengeluaran tambahan yang terbatas. Sebagian dari ini dapat didanai secara organik oleh PDVSA, tetapi modal internasional perlu dikomitmenkan untuk memungkinkan 3 juta barel per hari pada tahun 2040,” ujar Janiv Shah.
Pemerintah Presiden Donald Trump berencana bertemu dengan para eksekutif minyak AS minggu ini. Pertemuan tersebut bertujuan membahas langkah-langkah mendongkrak produksi minyak Venezuela.
Venezuela merupakan anggota pendiri Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC). Negara ini memiliki cadangan minyak terbesar di dunia, yakni sekitar 303 miliar barel.
Sektor minyak Venezuela telah lama mengalami penurunan. Kurangnya investasi dan sanksi dari AS menjadi penyebab utama kemerosotan tersebut. Rata-rata produksinya tahun lalu hanya mencapai 1,1 juta barel per hari.
Dari pasar global lainnya, Reliance Industries asal India mengumumkan kebijakan baru. Perusahaan tersebut tidak mengharapkan kiriman minyak mentah Rusia pada Januari ini.
Langkah ini diprediksi akan memangkas impor minyak Rusia oleh India ke level terendah dalam beberapa tahun terakhir. Kebijakan ini muncul setelah Donald Trump memberikan peringatan keras kepada India pada hari Minggu.
Donald Trump mengancam akan menaikkan tarif impor lebih tinggi terhadap India. Ancaman ini berkaitan dengan aktivitas pembelian minyak Rusia oleh negara tersebut.
